Apa itu Pemimpin, Perlukah Kita untuk Persatuan dan Dari Mana Memulai?
Oleh: Rio Kogoya
Dalam beberapa kesempatan saya berjumpa dengan beragam kawan seperjuangan di tanah air dan mendiskusikan tentang perpecahan dalam organisasi pergerakan rakyat yang sedang kita hadapi bersama. Di tengah hantaman kolonialisme Indonesia dan imperialisme yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan bangsa Papua. Ratusan ribu rakyat Papua mengungsi akibat operasi militer, jutaan hektar hutan adat dibabat habis dan pembungkaman ruang berkespresi yang semakin tidak beradab. Rasisme yang terus mengakar diwarnai dengan inferioritas kompleks yang terus menubuh dalam diri manusia Papua. Sungguh, diskusi ini berangkat dari situasi tanah Papua yang sulit diekspresikan lewat kata-kata dan obrolan singkat.
Mereka yang saya temui datang dari berbagai latar belakang, ada yang tidak peduli soal organisasi gerakan namun tetap melawan, ada yang bagian dari itu, saya ketemu juga dengan mama-mama di pasar, mama-mama korban, kemudian tokoh dan pelayan gereja hingga pendatang (settler) yang hidup di Papua. Unik namun dalam semangat yang sama, pandangan mereka terkait perjuangan rakyat Papua hari ini. Seperti nyanyian Arnold Ap Hidup ini Suatu Misteri, begitu juga dengan gerakan rakyat.
Satu hal yang mereka sepakati soal perjalanan panjang perlawanan rakyat Papua melawan kolonialisme Indonesia dan imperialisme yaitu terkait kekosongan pemimpin revolusioner dan berkharisma. Ada yang mengatakan Papua membutuhkan pemimpin untuk menyatukan berbagai perbedaan pendapat. Kita memerlukan sosok yang dapat menyatukan beragam suku di Papua. Kita perlu pemimpin dari kalangan pemuda dan pemudi Papua yang revolusioner, bahkan ada yang berpikir kita perlu pemimpin yang takut akan Tuhan. Intinya kita memerlukan sosok manusia yang dapat membuat seluruh manusia di Papua bersatu hati, dan lakunya. Untuk bersama-sama mewujudkan Papua yang damai dan berdaulat atas tanah, budaya dan sejarahnya melalui perlawanan.
Sebelum sampai pada pembahasan soal persatuan ada pertanyaan yang timbul di hati saya, pemimpin itu apa? Dan bagaimana cara menciptakannya? Bukankah kita semua tuan atas diri kita sendiri? Apa yang dapat membuat seseorang begitu dipercaya sehingga diberikan kepadanya segala harapan kita? Masih banyak lagi perdebatan dalam pikiran saya yang sangat terbatas ini.
Tentang Pemimpin
Berangkat dari rasa penasaran yang melahirkan rangkaian pertanyaan di atas saya berusaha mencari beberapa definisi oleh para filsuf. Mereka hadir dari beragam latar belakang dan kebangsaan yang sejak dahulu mencoba untuk memaknai arti dari pemimpin atau kepemimpinan.
- Aristoteles
Kita mulai dari Aristoteles, filsuf dan ilmuwan Yunani Kuno (384–322 SM) yang sangat berpengaruh dalam sejarah pemikiran Barat. Ia adalah murid Plato dan guru dari Alexander Agung (The Great Alexander). Aristoteles menawarkan satu ide tentang kepemimpinan. Yakni aristokrasi, kepemimpinan oleh beberapa orang tercerahkan yang merupakan orang-orang terbaik di suatu masyarakat. Orang-orang ini memiliki keutamaan hidup, dan, ia bisa membedakan antara Ideen (pengetahuan yang tidak berubah) dan Meinungen (pengetahuan semu). Konsep penting di dalam aristokrasi adalah keutamaan (Tugend/Arete), yang berarti sikap-sikap baik yang tampak nyata dalam hidup sehari-hari, dan muncul dari kebiasaan hidup (Gewohnheit/Habitus).[1]
- Niccolo Machiavelli
Berikutnya menurut Niccolo Machiavelli seorang diplomat dan politikus asal Italia yang juga seorang filsuf. Ada dua argumennya yang penting untuk teori mengenai kepemimpinan. Pertama adalah politik tanpa moralitas, yakni berusaha mewujudkan tujuan-tujuan baik dari politik, walaupun dengan cara-cara yang “kurang bermoral”. Kedua adalah pentingnya pencitraan di dalam politik (lebih baik ditakuti daripada dicintai oleh rakyat). Hal penting yang diajarkan oleh Machiavelli dalam konteks kepemimpinan politik adalah kecerdikan. Cerdik berarti orang tahu, kapan harus menggunakan kelembutan ataupun kekerasan di dalam politik, guna mencapai tujuan-tujuan tertentu. Kepemimpinan revolusioner juga harus cerdik ala Machiavelli semacam ini. Ia juga perlu tahu, bagaimana cara menjaga citranya di hadapan masyarakat luas. Beberapa penekanan lain yang diberikan machiavelli tentang pemimpin yaitu pemimpin harus dapat dukungan dari rakyat, harus memiliki kepribadian yang baik (baik secara moral), dan harus cerdas.
- Immanuel Kant
Di akhir abad 18 Immanuel Kant seorang filsuf asal Jerman. Ia menulis buku dengan judul Zum Ewigen Frieden yang berarti menuju perdamaian abadi. Ide yang cukup penting dalam buku ini adalah tentang kepemimpinan dunia yang di bangun atas dasar prinsip-prinsip rasional yang digunakan secara publik (der öffentliche Gebrauch der Vernunft). Dengan kata lain, kepemimpinan harus menggunakan pemikiran rasional di dalam setiap pembuatan keputusan. Rasionalitas, atau akal budi, digunakan tidak hanya untuk kepentingan pribadi semata, melainkan juga untuk menata masyarakat. Menurut Kant, kepemimpinan yang revolusioner juga harus menggunakan akal budi. Dalam konteks ini, akal budi digunakan tidak hanya untuk mengubah keadaan, tetapi juga untuk menata perubahan itu sendiri, sehingga bisa menciptakan kebaikan bersama secara berkelanjutan (nachhaltig). Kepemimpinan revolusioner yang berpijak pada akal budi juga berarti siap untuk mempertanyakan tradisi-tradisi lama, yang dianggap suci, tetapi sebenarnya tidak lagi pas dengan keadaan yang terus berubah. Dengan kata lain, akal budi digunakan tidak hanya secara teknis, melainkan juga secara kritis.
- Karl Marx
Lahir tahun 1818 dan wafat pada 1883, pengaruh Marx dalam bidang filsafat, ilmu sosial, dan pemikiran global masih terasa hingga saat ini. Meski pemikirannya diinterpretasikan dengan berbagai cara[2], turunan pemikiran Marx tetaplah berfokus pada analisis kelas sosial, yang memandang sejarah masyarakat sebagai pertarungan kelas. Marx percaya bahwa perubahan sosial yang revolusioner dipimpin oleh kaum tertindas itu sendiri. Kesadaran kelas ini memicu kepemimpinan yang egaliter, di mana buruh sadar akan kekuatan kolektif mereka, berserikat, dan bergerak bersama untuk mengambil alih alat-alat produksi. Inti dari filosofi Marx menolak konsep “pemimpin individu” (seperti manajer atau raja). Menurutnya, kepemimpinan sejati adalah tindakan kolektif dan emansipatoris yang bertujuan menghapus dominasi kelas dan mewujudkan masyarakat yang adil.[3]
- Abdullah Ocalan
Berikutnya yang menurut saya menarik untuk dijadikan rujukan adalah pemikiran Abdullah Ocalan. Ia mendirikan PKK (Partai Pekerja Kurdi) pada tahun 1978, Öcalan dalam gerakan pembebasan nasional untuk mendirikan negara merdeka bangsa Kurdi. Menurutnya pemimpin yang baik adalah ia yang membuat dirinya tidak lagi dibutuhkan: dalam kerangka Konfederalisme Demokratis yang ia kembangkan, kepemimpinan tidak lagi dilihat sebagai posisi atau jabatan, tetapi sebagai “proses kolektif yang tumbuh dari bawah”. Ia menolak model kepemimpinan vertikal yang menempatkan satu orang atau kelompok kecil sebagai pusat kekuasaan. Sebaliknya, kepemimpinan harus diwujudkan melalui musyawarah, dialog, dan partisipasi aktif semua anggota masyarakat akar rumput. Ia bukan lagi tokoh kharismatik yang dikultuskan, tetapi pemandu moral dan intelektual, penyambung solidaritas, dan pembentuk kepribadian sosialis. Tugas utama pemimpin bukanlah mengatur orang lain, tetapi membantu mereka menyadari potensi kolektifnya untuk hidup mandiri tanpa dominasi negara atau kapitalisme. Pemimpin adalah benih yang menyebar dalam tanah subur tidak terlihat, tapi mampu menumbuhkan akar-akar perlawanan yang kuat dan saling berhubungan. Pemimpin yang baik adalah mereka yang membantu rakyat menemukan suara mereka sendiri, bukan mereka yang terus berbicara atas nama rakyat.” Abdullah Öcalan.[4]
Papua Barat, Persatuan dan Kepemimpinan
Setelah kita membaca secara singkat dan mencoba untuk memahami pandangan para filsuf dan pemikir dari Barat hingga ke Timur, terkait kepemimpinan kira-kira apa yang terbaik untuk Papua? Atau bahkan apa itu pemimpin dalam konteks adat dan kebiasaan orang Papua? Saya meyakini bahwa kedua pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab dengan pengalaman hidup kita sebagai orang Papua dalam lingkup paling kecil keluarga, marga, hingga komunitas wilayah adat setiap suku di Papua. Dan tentu saja melalui pengalaman kita melakukan aksi perlawanan bersama. Namun warna-warni pengalaman itu harus disesuaikan dengan realitas penindasan hari ini yang tidak saja membunuh secara fisik. Namun juga berhasil mengubah cara kita melihat diri sendiri. Kami sudah mulai tidak percaya diri dengan budaya, bahasa dan cara hidup yang telah diwariskan leluhur kami. Dampaknya juga hingga makanan yang kita konsumsi di atas meja. Sagu dan petatas digantikan oleh beras dan mie instan. Selain itu situasi kekerasan kolonial yang setiap saat berevolusi telah menyebabkan kondisi “penerimaan” pada tubuh dan pikiran manusia Papua. Menempatkan kekerasan sebagai sesuatu yang wajar ketika kita melawan.
Terlepas dari itu saya pikir Papua hari ini butuh persatuan yang benar-benar bersatu. Bukan saja membentuk organisasi, logo, program, taktik dan strategi juga aksi bersama. Tetapi juga ideologi, prinsip dan nilai yang disepakati untuk dihidupi dan diperjuangkan bersama. Ketiga unsur penting tersebut harus menjadi panduan kita dalam persatuan. Hari ini banyak sekali generasi muda Papua yang lahir dan mendambakan mimpi untuk bersatu.
Soal kepemimpinan saya lebih melihatnya bukan pada sosok individu. Tidak juga pada penokohan. Tetapi lebih kepada nilai, prinsip dan ideologi, yang menjadi alasan bersama untuk bersatu dan melawan. Nilai menjadi tujuan kita melawan sedangkan prinsip sebagai pedoman atau peta penunjuk arah bagi kita dalam bekerja. Sedangkan ideologi diibaratkan sebagai mobil, atau peta besar yang sudah disediakan untuk membawa persatuan menuju tujuan kita bersama. Ideologi mengorganisir nilai-nilai dan prinsip-prinsip tadi menjadi sebuah sistem keyakinan politik, sosial, atau ekonomi yang dianut bersama. Atau bahasa kerennya dikenal sebagai Blueprint.
Tiga komponen di atas harus menjadi patokan dalam setiap perencanaan strategi juga taktis. Kenapa begitu? Coba kita lihat sistem kepemimpinan semua suku yang di Papua Barat dari Sorong sampai Merauke, jauh sebelum hantaman kolonialisme dan kapitalisme. Memang betul ada sistem Big Man kepala suku, Ondoafi, dan lain sebagainya yang dipandang sebagai tokoh. Namun mereka itu memegang teguh pada satu tujuan (nilai) yaitu kebersamaan (kolektivisme). Segala persoalan yang dibahas dan diputuskan dalam rumah dan para-para adat harus berdasarkan kebutuhan dan kesepakatan bersama dalam kampung. Terkait gaya kepemimpinan orang Papua ini bisa kita bahas dalam tulisan yang berbeda dengan fokus, membedah berbagai cara dan kebiasaan orang Papua bersosialisasi.
Soal nilai, prinsip dan ideologi bersama dalam perjuangan dan kenapa itu penting? Jika kita belajar dari perubahan sikap mama Yashinta. Hari ini banyak sekali orang yang menghakimi Mama juga membelah pilihan politiknya tersebut. Perdebatan yang begitu panas muncul di berbagai media sosial dan para-para tempat orang Papua berbagi cerita. Saya berusaha melihat pilihan sikap Mama dari sisi yang berbeda. Menurut saya ini adalah dampak dari semangat penokohan yang selama ini kita gunakan. Kita yang tergabung dalam gaya advokasi LSM maupun gerakan perjuangan rakyat. Kita secara tidak sadar telah mendidik rakyat Papua untuk berharap pada satu sosok yang dipercaya dapat membawa perubahan. Ia yang paling berani, didengar dan siap untuk mewakili semua. Bukanya mendorong semangat perlawanan kolektif, terorganisir dan sadar akan resiko. Selama ini kita terlalu bersandar pada kekuatan seseorang yang disebut tokoh maka tidak bisa dipungkiri akan ada upaya kooptasi, entah itu melalui pembunuhan, intimidasi ataupun rayuan yang dilakukan negara. Seperti yang pernah terjadi pada beberapa aktivis dan tokoh perlawanan yang terkenal di Papua dan Indonesia seperti Yorrys Raweyai, Natalius Pigai, Budiman Sudjatmiko, Mugiyanto Sipin dan masih banyak lagi yang menjadi penjilat penguasa. Atau seperti yang terjadi pada tokoh pemimpin politik rakyat Papua seorang mantan birokrat dari partai Golkar Theys Hiyo Eluay. Ketika ia dibunuh oleh kolonial, tidak ada yang melanjutkan perjuangan di dalam Presidium Dewan Papua (PDP).
Disinilah letak pentingnya 3 hal tersebut yang kita perjuangkan bersama. Jika orang yang kita percayai sebagai pemimpin, juru bicara atau apapun itu melanggar batasan yang disepakati maka dia bukan lagi bagian dari kami. Atau ketika ia terbunuh masih ada hal-hal yang diyakini massa (rakyat) untuk terus diperjuangkan. Dan tentu saja agar kita tidak menghabiskan waktu memperdebatkan pilihan mereka yang menjilat dan berubah haluan. Batasan itu harus jelas tidak bisa abu-abu agar tidak sakit hati dan kecewa. Setelah ada nilai, prinsip dan ideologi kita juga membutuhkan organisasi sebagai tempat belajar dan melawan bersama. Organisasi berperan sebagai penjaga prinsip-prinsip yang sudah disepakati bersama. Seperti yang dikatakan kawan Rinto Kogoya;
“Seorang pejuang selalu bekerja bagi rakyat Papua dan perjuangan di bawah pimpinan organisasi yang tepat. Organisasi menjaga dia agar tetap memiliki dasar pengabdian yang ilmiah dan objektif untuk terus menghilangkan perbedaan kepentingannya dengan massa rakyat Papua. Bila tidak, maka dia tidak akan menjadi pejuang dalam pengertian yang sesungguhnya dan pengabdiannya pada rakyat Papua pun hanya bersifat sementara, penuh siksaan, dan seluruh tugas-tugas perjuangan yang diemban dianggapnya sebagai keinginan semata dan penuh formalitas”.[5]
Maka itu menjadi penting untuk sebelum kita melangkah jauh pada persatuan dan kepemimpinan kita perlu untuk mendefinisikan beberapa hal penting tersebut. Prinsip dalam perjuangan yang menurut saya penting__anti penindasan. Entah itu penindasan berdasarkan pilihan politik, kelas, gender, kepercayaan, identitas seksual dan lain sebagainya. Seperti pembebasan perempuan, anti kolonialisme, anti feodalisme, anti imperialisme dan anti kapitalisme. Selain itu juga pemakanan bangsa Papua sebagai subjek aktif penggerak roda sejarah perlawanan, siapakah mereka? Apakah hanya orang asli Papua yang bercirikan berambut keriting datang dari keturunan asli Melanesia atau settler yang hadir di Papua akibat program transmigrasi negara juga termasuk di dalamnya?
Pelan dan Terus Melawan
Tentu proses pencarian makna dan jalan menuju pembebasan ini akan kita lewati bersama. Saya sadari ini juga bukan jalan yang mudah, tulisan ini juga hanya refleksi kecil dari jalan sunyi yang penuh tantangan. Ialah pilihan sejarah bangsa kita, untuk tetap melawan. Ia juga tidak berusaha untuk menjawab dengan benar semua pertanyaan yang lahir. Ini hanya sebagai pemantik untuk berdiskusi dan membuka ruang perdebatan guna memunculkan kembali arena untuk berdialektika.
Pelan kawan, tahan posisi dalam perlawanan dan terus bergerak mengupayakan persatuan. Kolonial tidak punya kuasa ia mungkin memiliki kekuatan militer yang besar, sumber daya yang tidak terbatas. Namun tidak akan pernah memadamkan semangat para pejuang kebebasan yang sejati (Freedom Fighters) dalam mempertahankan tanah air, sejarah kaum terjajah yang melawan telah membuktikan itu.
Perempuan, Tanah Air, Kehidupan dan Kebebasan.
Referensi
Buku:
John B. Thompson, Ideology and Modern Culture: Critical Social Theory in the Era of Mass Communication (Stanford: Stanford University Press, 1990), hlm. 56.
McLellan, D. (2007). Marxism after Marx, Fourth Edition. Palgrave Macmillan.
Stephen R. Covey, Principle-Centered Leadership (New York: Simon & Schuster, 1990), hlm. 18-22
Stephen R. Covey, The 7 Habits of Highly Effective People (New York: Free Press, 1989), hlm. 32-35.
Terry Eagleton, Ideology: An Introduction (London: Verso, 1991), hlm. 1-10
FranklinCovey, “Center on Principles,” FranklinCovey South Asia,
Website:
Lannone, A. (2024, May 17). Filosofi pembebasan: Mengenang pemikiran Karl Marx dan relevansinya dengan Indonesia sekarang. The Conversation. https://theconversation.com/filosofi-pembebasan-mengenang-pemikiran-karl-marx-dan-relevansinya-dengan-indonesia-sekarang-229313
Papuan. (2025, November 18). Apa itu Pemimpin dan Kepemimpinan dalam paradigma Apoist?Papuansspeak.Org. https://papuansspeak.org/2025/11/apa-itu-pemimpin-dan-kepemimpinan-dalam-paradigma-apoist/18/
Reza A.A Wattimena. (2013, October 25). Kepemimpinan Revolusioner. Rumah Filsafat. https://rumahfilsafat.com/2013/10/25/kepemimpinan-revolusioner/
Redaksi. (2026, July 14). Pengabdian Total Kepada Rakyat Papua! Lao-Lao. https://laolaopapua.com/2026/07/14/pengabdian-total-kepada-rakyat-papua/
[1]Baca: https://rumahfilsafat.com/2013/10/25/kepemimpinan-revolusioner/ (Accessed January 25, 2025)
[2] Baca: Marxism After Marx by David Maclellan
[3] https://theconversation.com/filosofi-pembebasan-mengenang-pemikiran-karl-marx-dan-relevansinya-dengan-indonesia-sekarang-229313
[4] Baca: https://papuansspeak.org/2025/11/apa-itu-pemimpin-dan-kepemimpinan-dalam-paradigma-apoist/18/
[5] https://laolaopapua.com/2026/07/14/pengabdian-total-kepada-rakyat-papua/
