Oleh: Maximus Sedik (Penulis adalah anak kampung dari kepala burung-Papua)
Pulau raksasa itu diperbutkan dengan periodesasi yang berbeda-berda dan juga penamaan terhadap pulau ini yang beragam. Sesuai dengan (subjek) siapa yang tiba dan dimana tempat mereka tiba. Kelompok ini datang dengan misi yang berbeda-beda, ada yang datang karena kepentingan dagang baik perintah dari kepala kerajaan dan pemerintahan dimana meraka berasal, ada juga datang dagang murni dengan membawa hasil jadi untuk ditukarkan dengan penduduk setempat. Bukti fisiknya seperti Cina menguasai pesisr utara Pulau raksasa (Papua) dan kemungkinan juga Portugis sedikit bersentuh dengan masyarakat pegunungan barat. Pulau Papua-kepala burung dan Arab di Fakfak dan sekitarnya. Literaturnya bermacam-macam sehingga kesimpulan yang tepat untuk menyimpulkan dan menjadi dokumen yang sah, tidak bisa disimpulkan sekarang karena butuh riset yang komperhensif dan objektif. Aspek antropologi orang Papua juga sedikit terpengaruh karena itu melekat hingga saat ini, dan juga aksen sehari-hari. Soal klas lebih jauh lagi, apakah prakolonialisme di Papua, masyarakat Papua sudah di pekerjakan di pabrik-pabrik, kebun-kebun dan pekerjaan konstruksi seperti jalan, selokan dan lainya pada saat Belanda di Papua. Kolonialisme paling nampak itu, Indonesia karena mensabotase status politik bangsa Papua melalui jalan kekerasan dan yang tak beradab.
Mengapa? Karena waktu Indonesia masuk Papua, selain menjalankan operasi militer ia juga menghancurkan dokumen-dokumen seperti buku, benda-benda artefak dan bengkel-bengkel waktu dibangun Belanda bersama orang Papua. Kelompok yang berikutnya, yakni kelompok menyebarkan Agama samawi (Katolik, Protestan dan Islam) para pengkhotbah ini turut mempengaruhi peradaban awal Papua hingga hari ini. Islam berkembang di wilayah Fakfak, pesisir Raja Ampat dan sekitar, Protestan Melalui Otto dan Geisel masuk teluk Doreri, Mansinam dan Katolik Papua selatan (Merauke dan sekitarnya). Mereka datang dengan tujuan karya pelayanannya bentuk pengabadian secara total untuk memperkenalkan sekolah modern: menghitung, membaca, menulis dan bernyanyi. Mengapa dasar ini saja yang diajarkan awal, menulis untuk menulis surat, membaca untuk membaca kitab suci, berhitung untuk menghitung barang dagang dan keungan dan bernyanyi untuk menyanyi lagu rohani pada kebaktikan-perayaan misa bersama Pendata dan Pastor.
Proses pengkabaran Injil berjalan dan di dukung dengan pembangunan pusat-pusat pendidikan di tempat sentral untuk aktifitas belajar-mengajar dan mulai mendatangkan guru-guru dari Key dan orang Belanda sendiri. Agama adalah pintu awal yang menaklukan bangsa Papua, setelah itu yang lain mengikuti karena mereka sudah membuka jalan. Apakah jalan keselamatan seperti tertulis dalam ajaran-ajarannya atau jalan penderitaan seperti saat ini bangsa Papua hadapi? Bisa refleksikan sendiri berdasarkan realitas bangsa Papua sejak keberadaan kolonial Belanda dan sekarang kolonial Indonesia.
Tulisan di atas sebagai era prakolonial di Papua. Papua mengahadapi kolonialisme nyata pada saat Indonesia melakukan invasi militer dalam bentuk operasi-operasi militer seperti ditemukan dalam berbagai literatur-literatur yang ditulis oleh orang asli Papua dan juga lembaga non pemerintahan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Jurnal dan dokumen-dokumen lain yang mengkaji tentang situasi Papua waktu lalu dan sekarang. Soekarano bersemangat berdiri dihadapan ribuan rakyat-nya di Alun-alun utara Yogyakarta mengkumandangkan Tiga Komando Rakyat (TRIKORA) tanggal, 19 Desember 1961, semangat operasi ini adalah cikal-bakal utama yang melahirkan operasi-perasi lain hingga saat ini, di Nduga, Intan Jaya, Maybrat dan seluruh tanah Papua Barat (West Papua) dengan disimpulkan bahwa Negara ini tidak menghargai martabat manusia Papua.
Mengapa Soekarno bersemangat untuk mencaplok Papua ? apakah dia seorang penganut berbagai aliran ideologi sehingga melahirkan marhanisme untuk menentang imperialism barat dan/atau latar belakang dia seorang Insiyur yang menekuni teknik atau apa motifnya. Waktu itu Belanda sudah melakuakan riset-riset menyeluruh sehingga data-data ini diajarkan kepada mahasiswa-mahasiswi di perguruan tinggi, termasukan Soekarno mahasiswa teknik bahwa disana ada kekayaan yang melimpah untuk menjamin masa depan Negara kami.
Aneksasi Papua bukan sebatas perebutan wilayah kekuasaan antara Belanda dan Indonesia; atas bangsa Papua sudah merdeka, masalah ini juga melibatkan Negara-negara lain seperti Rusia yang membantu Indonesia dan Amerika yang seakan-akan sebagai pihak tengah yang menghasilakn berbagai perjanjian-perjanjain. Perjanjian Amerika (New York Agreement) 15 Agustus 1962 dan perjanjian Roma, 30 September 1962. Kedua perjanjian ini tanpa melibatkan orang Papua sebagai subjek politik dan sebagai pemilik bangsa Papua.
Kita bertanya pada realitas, apa sebenarnya terjadidi Papua? presepasi setiap orang berbeda terutama kasus Papua. Pekerja Hak Asasi Manusia (HAM) dan pemerhati kemanusian yang lain memiliki pandangan empiris bahwa ini kejahatan kamanusiaan yang luar biasa di Papua. kejahtannya mencakup aspek: pendidikan, kesehatan, kekerasan terhadap perempuan dan operasi militer. Para pemerhati lingkungan menunjukan risetnya dalam bentuk buku dan laporan baik secara kuatitatif dan kualitatif, hutan Papua berada pada ambang kepunahan.
Kepunuhan itu terjadi kerena akibat ekspansi oleh para kipatal yang melakukan aktifitas produksi dan distribusi di Papua. Data dari pengiat lingkungan pasti berubah setiap tahun, karena secara statistik berubaha terutama presentasi kerusakan lingkungan di Papua. Tetapi, pertanyaannya adalah siapa yang bermain dibalik ini? Mengapa terjadi di Papua? bagaimana masa depan orang Papua? dan bebera pertanyaan mendasar untuk kita bersama membongkar kasak-kusuk ini. Indonesia saat ini mengalami krisis besar seperti pandemi covid-19 dan krisis ekonomi, para ekonom dan analis ekonomi menyatakan bahwa semakin parah ekonomi indonesia karena berada pada kuarter satu. Krisis tidak datang begitu saja, tetapi Negara ini melakukan kerja politik ekonomi bersifat ketergantunagan pada lembaga-lembaga pendonor dana dan pinjaman negara yang besar.
Logikanya “makan siang tidak mungkin gratis” dalam pinjaman pasti ada namanya perjanjian. Maka menimbulkan kesepakatan antara kedua belah pihak, ini adalah teori kesepakatan. Kekayaan alam Indonesia sudah habis di eksploitasi dan sekarang para kapital yang bersekongkol dengan apparatus negara melakukan ekspansi ke Papua. Untuk melakukan eksploitasi alam Papua dan berharap pada kehadiran kapital seperti sawit, batu bara dan perusahan-perusahan ekstratif lain. Papua digadaikan ke lembaga atau negara yang melakukan kerja sama dan memiliki utang. Indonesia menganut politik bebas aktif sehingga Amerika, Cina dan Eropa semuanya pasti bekerja sama dengan Indonesia.
Negara-neagra dunia ketiga selalu menciptakan standarisasitertentu untuk mengukur parameter maju dan tidaknya suatu Negara. Politik ini di ciptakan untuk melegitimasi kepentingan mereka dalam negara-negara dunia ketiga, dalam kerangka ini pemilik modal berperan sebagai actor utama untuk mempengaruhi semua seperti aspek hukum undang-undang tentang mineral dan batu bara. Undang-undang cipta kerja dan bentuk produk undang-undang lain memberi peluang untuk eksploitasi besar-besaran kerja-kerja seperti saat ini sedang berlangsung di Papua. Salah satunya perpanjangan otonomi Khusus Jilid II melalui UU No, 2 Tahun 2021 tentang otonomi khusus bagi Papua.
Kita menganalisa lebih jauh kondisi indonesia hari dijajah secara ekonomi kerena negara belum berdualat atas sumber daya-nya. Jutaan rakyat terlantar miskin, demokrasi buruk, penegakan hukum tumpan-tindih, korupsi dalam lingkaran kekuasaan biasa saja.
Apakah kita bertahan dalam Negara ini masih hidup sebagai manusia merdeka secara politik dan merdeka secara natural ? bebas berpendapat, lahir tanpa tekanan, bebas berkreasi, bebas kemana-mana tanpa di intai, di awasi dan sebagainya. Atau kita hidup dalam kegelapan seperti saat ini ? operasi militer berjalan, euforia Pekan Olahraga Nasional (PON) berjalan. Sampah menumpuk dimana-mana, hutan menjadi gundul, sungai tercemar, gunung menjadi botak, budaya hilang. Apakah ini yang disukai oleh kita orang Papua sehingga bertahan dalam Negara Kolonial Indonesia ? Bila kita bertahan karena bentuk kolonialisme ini, maka kita adalah bangsa paling tertinggal dalam sejarah peradaban dunia saat ini. Terutama jalan pikiran yang buntut. Papua terjebak dalam sandiwara ini dan hidup bersama juga dengan politik pencitraan dalam naungan kolonialisme jargon NKRI harga mati. Mengakibatkan orang kita orang Papua banyak yang terbunuh dan ekologi Papua hancur.
