9 Tanda Kolonialisme Masih Hidup di Dalam Tubuhmu

Oleh: @TRAUMATIZED_THRIVING

Kolonialisme berpengaruh pada cara kita memandang dunia. Kolonialisme tidak saja merampok kehidupan, tanah dan pekerjaan.

“Ia Merampok Kepercayaan Diri Kami’.

Kolonialisme telah membentuk ulang banyak relasi dalam kehidupan kami. Terutama yang berkaitan dengan kekuasaan, cara kita beristirahat, harga diri dan cara kita terhubung dengan dunia. Berikut bagaimana tanda-tanda tersebut dapat terlihat dalam dirimu.

Tanda Pertama: Kau Terdiam Ketika Kekuasaan Memasuki Ruangan.

Hal ini dapat diketahui ketika seseorang yang memiliki kekuasaan (Pejabat Negara, Kepala Kampung, pemimpin agama) memasuki ruangan. Seluruh orang di dalam ruangan akan terdiam sebagai tanda penghormatan. Hal ini terjadi karena banyak orang Papua diajarkan untuk patuh bukan berpikir kritis. Tubuh kami telah mempelajari bahwa ketidaksepakatan bisa mengakibatkan hukuman, penolakan dan mara bahaya. Bahkan ketika kita beranjak dewasa bahu kami tegang, kita menahan napas. Kita bersiap. Ketika dalam situasi ini.

Tanda Kedua: Kau Merasa Bersalah Ketika Beristirahat

Kolonialisme dan Kapitalisme mengikat perasaan berharga manusia dengan produktivitasnya dalam bekerja. Waktu istirahat menjadi sesuatu yang harus didapatkan daripada sesuatu yang merupakan kebutuhan dasar semua manusia. Jika bergerak lamban terasa tidak nyaman, tubuhmu masih mempercayai bahwa nilai harga dirimu ditentukan oleh apa yang kamu hasilkan.

Tanda Ketiga: Sulit untuk Mengatakan Tidak

Menyenangkan perasaan orang lain seringkali menjadi strategi untuk bertahan. Banyak dari kami yang mempelajari bahwa batasan memicu konflik dan kepatuhan memunculkan rasa aman. Sistim saraf dalam tubuhmu masih mempercayai bahwa mengatakan tidak beresiko ditinggalkan, dihukum dan atau merasa tercerai dari komunitas.

Tanda Keempat: Kamu Selalu Meragukan Perasaanmu Sendiri

Sistim kolonialisme telah mengajari kami untuk mempercayai para ahli, lembaga, dan aturan mereka atas pengalaman kehidupan kami. Seiring berjalannya waktu banyak dari kami belajar untuk tidak mendengar sinyal yang dikeluarkan oleh tubuh kita sendiri. Perasaan kamu mungkin terkubur dalam pengkondisian yang terjadi selama bertahun-tahun.

Tanda Kelima: Kami Bahkan Merasa Perlu Meminta Maaf untuk Sekedar Merasa Ada

Mengecilkan diri selalu membuatmu merasa nyaman. Kamu mengatakan “Maaf” bahkan ketika kamu tidak membuat sesuatu yang salah. Tubuh kita selalu mengingat perasaan dihukum ketika kita mengambil ruang. Ko Punya Kebutuhan Penting.

Tanda Keenam: Kamu Selalu Mengantisipasi Akan Dihukum Ketika Menyuarakan Kebenaran

Sistem kolonial selalu membungkam perbedaan pendapat. Banyak diantara kita yang mewarisi memori-memori dikucilkan, kekerasan dan hilang ketika berani berbicara. Ketakutan untuk terlihat/bersuara itu bukan kelemahan, itu adalah sebuah respon perlindungan. Mengungkapkan kebenaran terasa lebih mudah ketika dilakukan di dalam komunitas.

Tanda Ketujuh: Kamu Membutuhkan Pengakuan Dari Luar untuk Merasa Berharga

Kolonialisme telah mengajari kami untuk mengukur betapa berharganya diri kita melalui status, produktivitas, dan seberapa dekat kita dengan kekuasaan. Seiring berjalannya waktu kita belajar untuk melihat keluar dari diri kita sendiri untuk membuktikan bahwa kita berharga.

Kamu itu berharga sebelum kamu meraih apapun. Merasa layak itu hak kamu sejak pertama kali dirimu dilahirkan ke dunia.

Tanda Kedelapan: Kamu Merasa Bahwa Kamu “Terlalu Berlebihan”

Sistim kolonial memberikan imbalan kenyamanan dan menghukum keaslian. Ketika kamu menjadi dirimu sendiri kamu merasa tidak aman, itu tanda bahwa tubuhmu mungkin saja masih melindungimu dari kekerasan masa lalu. Kamu tidak seharusnya mengucilkan diri agar bisa diterima.

Tanda Kesembilan: Kamu Cenderung Melakukan Segalanya Secara Berlebihan dan Kesulitan Meminta Bantuan

Kemandirian yang berlebihan seringkali berkembang ketika dukungan dirasa tidak tersedia, merasa tidak aman, dan bersyarat. Banyak dari kami belajar bahwa bertahan berarti membawa segala beban sendirian. Padahal pemulihan berarti juga kemampuan untuk menerima bantuan. Saling ketergantungan itu bukan kelemahan.

Setelah baca coba renungkan dengan tutup mata tarik napas yang dalam dan nikmati setiap proses penghapusan cara pikir kita yang telah dijajah. Lepaskan napas perlahan dan merdekalah.

Kolonialisme tidak saja hidup di dalam sistem. Ia juga hidup di dalam tubuh kita dengan cara bagaimana tubuh kita mencoba untuk bertahan dari sistem tersebut. “Alisha”

Sembilan hal di atas itu bukan kelemahan karakter, mereka adalah strategi untuk bertahan. Tubuhmu telah beradaptasi dengan kondisi yang dihadapinya (Kondisi terjajah).

Kesadaran Menciptakan Pilihan.

Pilihan Menciptakan Perubahan”

Kamu berhak untuk menerima bantuan saat kamu melepaskan pola pikir atau kebiasaan lama, membangun kembali hubungan dan memulihkan rasa aman berdasarkan cara kamu sendiri.

____________________

Diedit oleh: Papuansspeak

More From Author

Papua Dalam Bayang-Bayang Genosida dan Ekosida

Tinggalkan Balasan