Oleh: Yohanes Ukago
Lirik romantis dan cinta dalam sejarah musik rap, semua rapper di Papua memproduksinya, berlangsung sejak genre musik ini mula-mula masuk di Manokwari.
Lirik-lirik romansa disukai anak remaja alias usia pacaran. Namun narasi dalam beat seperti itu, tidak akan bertahan lama, akan tertimbun dengan karya baru sehingga bagi pendengar tidak akan menyisahkan makna apapun sejalan dengan keadaan hubungan kisah kasih seseorang. Tapi, karya mereka bagian dari proses menemukan jati diri sebagai seorang rapper.
Seperti rapper senior Qiiba, dia telah membuktikan, bahwa tidak selamanya rap itu soal cinta, lagu miliknya berjudul “Surga Kecil” adalah salah satunya. Karyanya ini lalu booming karena narasi dalam musiknya yang menyampaikan fakta dan kondisi tanah Papua secara tepat, sungguh-sungguh dan jujur.
Lagu “Surga Kecil” mengungkapkan prilaku pemerintah Indonesia, merampas tanah adat, perusahaan yang masif, operasi militer, pembungkaman ruang demokrasi, dan penyangkalan referendum 1969. Karena atas dasar seruan dan protes itu, dia ditangkap dan sempat di jebloskan dalam penjara.
Perlawanan menyuarakan realitas dan hak politik tidak selamanya melalui jalanan atau diplomasi,. Rap jadi potensi medium perlawanan paling nyata, terutama bagi anak muda masa kini. Epo D’Fenomeno, Emoz Kofit, Rikex, Ukam Maran, dan Whllyano Marcellino Wiay juga sering bersaksi dengan diksi mereka tentang parahnya realitas di tanah Papua.
Perlu rapper kritis bermunculan seperti mereka. Kritisnya seorang rapper juga dituntut untuk jeli melihat oknum polisi yang sewenang-wenang di Papua, seperti Eazy bernyanyi melalui judul “Fuck The Police” di Amerika. Belajar dari perilaku oknum polisi Nabire, Papua Tengah merasa seperti firaun dengan seragamnya, dan alat negara. Mereka memukul, menangkap dan buang gas air mata di kompleks-kompleks (Tanpa melihat siapa yang salah dan benar) hingga terbunuhnya Eko Ikomou di Karang Barat (Diduga polisi pelaku pembunuhan sampai sekarang khasusnya di tutupi).
Tidak Ada Pengganti Nick Young Money di Merauke
Alm. Nick Young Money atau Nikodemus Ronny Laimehriwa rupanya masih terdaftar sebagai rapper pemberani untuk melakukan perlawanan, dia bukan berasal dari Nabire, Wamena, Sorong, Paniai atau Biak, tapi Merauke. Dia melawan sekaligus protes kepada negara.
Di Merauke, Nick protes kehadiran MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate) yang di mulai pada 2010. Proyek ambisius ini merampas seluas 1,2 juta hectare tanah adat orang Malind. Luas lahannya dapat membangun 1,68 juta lapangan sepak bola standar FIFA. Meskipun tidak terlalu spesifik disebut, tetapi lirik dalam karyanya berjudul “Jangan Diam” dapat di simpulkan ia menyoroti lumbung pangan dan energi nasional itu.
Begini liriknya : “Sa pu dusun deng hutan dong babat habis, sa pu mama bilang orang Papua akan habis”, adalah lirik yang menandakan sirene bahaya terhadap tanah, ekologis dan kepada manusia Papua itu sendiri.
Liriknya yang menyuarakan ketimpangan dan pengerusakan alam di Merauke juga mempresentasikan berbagai perusahaan yang telah menyebar di seantero tanah Papua. Diketahui di Papua Tengah terdapat PT. Freeport Indonesia, mulai produksi sejak 1967-sekarang, Sorong minyak bumi 1935-sekarang dan kelapa sawit di Keerom, Sorong Selatan, Teluk Bintuni, Manokwari Selatan, dan Nabire. Belum terhitung tambang-tambang ilegal yang makin menjamur.
“Ia tidak hanya menyanyikan lagu-lagu kasmaran, tapi juga menyanyikan lagu-lagu kritik sosial”, kata sahabat Iphan Sayko setelah Nicky Young Money hembuskan nafas terakhir pada 9/2/2021 (Jubi).
Yang terbaru dan sedang mencuat saat ini di Papua Selatan Merauke, Mappi, Asmat, dan Boven Digoel dengan Proyek Strategis Nasional (PSN). Lagi-lagi di wilayah tanah adat Animha tempat Nick Young Money dilahirkan. Namanya Program Swasembada Pangan, Energi dan Air Nasional, disahkan berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Permenko) Nomor 16 Tahun 2025. Sosok seperti Nick Young Moaney yang dirindukan masyarakat Auyu dan sekitarnya saat situasi genting seperti sekarang.
Saat ini, rapper Merauke bertambah jumlah komunitasnya, Not Empty, One Scot, Elpama Prison, wenty’F Domhingga Kippenn Rush. Karya-karya mereka disanjung dan di putar di mana-mana sembari goyangkan badan atau sekedar acungkan jempol (genre party). Tetapi tidak sebagai pengganti Nicky Young Money: Kampanye serta menyuarakan ketidakadilan.
Mereka tidak punya kepekaan, tidak merasa terancam, tidak miliki rasa cinta kepada tanah mama juga rasa hormat. Sementara tanah kelahiran mereka di rusak eksavator, pohon sagu tumbang, rusa mati, air tercemar, ekosistem punah. “Hutan, rawa bukti kitorang (kita) kaya, doa minta untuk Tuhan selalu jaga, jauhkan mereka dari yang mau kuasa”, dalam lirik lagu berjudul Harapan milik Nick Young Money.
Perusahaan bertebaran secara mulus atas bekingan kebijakan negara serta persengkongkolannya dengan Gereja (Uskup Mandagi). Pada posisi ini, seharusnya, musik dan lirik mereka jadi tombak perlawanan bersama masyarakat adat, tidak hanya menghibur, melainkan mampu mencerminkan penderitaan dan alienasi yang sedang dialami masyarakat adat Papua.
Editor: Papuansspeak
