Kasus Pembunuhan Adinda Julia di Merauke dan Stereotip Kepada Orang Asli Papua.
Oleh: Kaka Namek
Turut berbelasungkawa atas berpulangnya adinda almarhumah Julia Rizky Ramadhani.
Sebelum masuk dalam pembahasan ada baiknya kita memahami apa itu stereotip. Ia adalah penilaian atau anggapan yang kaku, terlalu disederhanakan, dan sering kali tidak akurat mengenai sifat, perilaku, atau karakteristik suatu kelompok orang.
Hanya berdasarkan kategori tertentu seperti suku, gender, ras, agama, atau profesi.
Cara berpikir ini terbentuk karena otak manusia secara alami mencoba mengelompokkan informasi agar lebih mudah dipahami. Namun dampaknya seringkali merugikan karena mengabaikan keunikan dan fakta bahwa setiap individu dalam kelompok tersebut berbeda-beda. Stereotip juga merupakan dampak dari kolonialisme seperti yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Syed Hussein Alatas dalam bukunya yang berjudul “The Myth of the Lazy Native”. Ia menjelaskan tuduhan bahwa pribumi itu malas adalah akibat dari propaganda ekonomi kapitalisme kolonial. Karena pada saat itu kaum pribumi Jawa, Melayu dan Filipina menolak bekerja paksa di kebun milik kolonial Belanda, Inggris dan Spanyol.
Kemudian diperjelas juga oleh Frantz Fanon seorang pemikir poskolonial dan psikiater dari Marnique. Fanon menjelaskan, kolonialisme bekerja dengan cara menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan masyarakat yang dijajah (dehumanisasi). Penjajah menciptakan stereotip bahwa kaum pribumi adalah makhluk yang “jahat”, “tidak berbudaya”, “inkompeten”, atau mendekati binatang.
Melalui tulisan ini penulis mencoba untuk menjelaskan bagaimana narasi yang diproduksi negara beroperasi dalam cara pikir pendatang terhadap masyarakat adat Papua atau Orang Asli Papua (OAP). Dan juga mencari tahu siapa yang diuntungkan dari proses tersebut.
Mari kita mulai. Julia sebelumnya dilaporkan hilang dari rumahnya di Gang Haji Kasim, Kelurahan Seringgu Jaya, pada 27 Oktober 2025 sekitar pukul 03.00 Waktu Papua. Korban merupakan siswi salah satu Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) di Merauke. Banyak pihak yang dibuat kaget dengan kasus mengerikan ini. Seorang anak Perempuan (11) berkebutuhan khusus harus meregang nyawa dengan sangat tidak manusiawi. Jenazah Julia ditemukan dalam kondisi tubuh yang sudah dimutilasi oleh pelaku. Hal ini membuka perdebatan, kontroversi di tengah masyarakat tentang kronologi dan pihak yang paling bertanggungjawab dalam kasus ini.

Saat baru saja tercium publik, masyarakat disajikan sebuah rekaman kamera pengawas yang memperlihatkan seseorang yang diduga adalah OAP sedang berusaha untuk memanjat tembok. Rekaman itu diperkirakan berada di dekat tempat kejadian perkara (TKP). Publik secara sontak dan tidak langsung mengaitkan kasus penghilangan nyawa anak gadis ini dengan seorang pria yang diduga juga melakukan pencurian. Informasi tersebut kemudian ikut disebarluaskan tanpa terlebih dahulu melakukan verifikasi dan konfirmasi. Informasi ini beredar melalui akun sosial media (IG dan FB) @InfoKejadiankotamerauke. Ia telah membentuk opini di tengah masyarakat dengan meyakini bahwa pria yang memanjat tembok pagar ini sebagai pelaku pembunuhan sadis ini.
Fakta menarik juga terkait akun info kejadian di Merauke, ia selalu menyebarkan video atau foto tentang kekerasan, mabuk, tawuran dan situasi buruk lainnya yang pelakunya didominasi OAP. Ini menurut hemat penulis merupakan pola untuk terus mereproduksi narasi negatif tentang OAP. Yang ikut menyuburkan stereotip dan stigma.
Stereotip dan Kolonialisme
Lebih jauh daripada itu, masyarakat seolah-olah mengaitkan identitas biologis pria OAP tersebut dengan kasus ini. Lebih liarnya lagi, disini pemikiran stereotip yang melekat kuat di benak mayoritas masyarakat Indonesia mulai terlihat dampaknya.
Bukannya objektif melihat sebuah kejadian, masyarakat kemudian mengasosiasikan ciri identitas fisik yaitu berkulit gelap dan berambut keriting dengan perilaku jahat.

Pemikiran stereotip ini kemudian menyudutkan orang asli Papua atau setidaknya mereka yang juga merasa berkulit hitam dan berambut keriting untuk turut menyalahkan, membenarkan dan meyakini bahwa pria yang tertangkap kamera pengawas adalah pelakunya.
Hal ini memaksa orang asli Papua, setidaknya penulis dan yang juga bagian dari identitas biologis pria yang terekam kamera pengawas, untuk turut menjalani aktivitas mereka dengan rasa was-was sampai kejelasan kasus ini diungkap oleh pihak berwajib.

Akhirnya dalam konferensi pers yang dilaksanakan oleh kepolisian Merauke pada Oktober 2026, diterangkan dengan jelas bahwa pelakunya bukan pria yang terekam kamera pengawas, melainkan ayah dari almarhumah sendiri bernama Maulana yang kemudian ditetapkan oleh pihak berwajib sebagai tersangka.
Sebuah catatan kecil dari sebuah peristiwa kelam yang patut direfleksikan oleh kita semua. Apa itu?
- Pertama Apa yang terlihat di depan mata, tidak dapat diartikan secara gamblang sebagai sebuah kebenaran tunggal. Dalam kasus ini, seorang pria yang diduga OAP terekam kamera pengawas pun ternyata bukan pelaku dari kejadian yang dimaksud.
- Kedua, dalam kasus ini, pria yang diduga juga melakukan tindak kejahatan yang lain ternyata bukan pelaku. Apa artinya, jika publik merasa bahwa dia adalah pelakunya, artinya secara keseluruhan, publik mengkaitkan identitas biologis (warna kulit) terhadap potensi kejahatan. Asumsinya jika semakin hitam kulit seseorang semakin jahat, maka garis hubung antara pelaku kejahatan dengan tingkat kejahatan akan ditarik dan dihubungkan. Lalu mereka yang semakin gelap kulitnya akan dihubungkan dengan tingkat kejahatan yang lebih kejam. Begitupun sebaliknya, mereka yang berkulit lebih terang akan berpotensi untuk melakukan kejahatan tetapi kejahatan yang tidak lebih kejam dari mereka yang berkulit gelap.
Hal ini terbaca dari sikap publik yang tidak terlalu banyak menaruh curiga pada sang tersangka, ayah korban sendiri. Bahkan di satu kesempatan, ayah korban ini masih sempat menghadiri aksi solidaritas terhadap korban. Tanpa mengurangi rasa peduli dan rasa duka terhadap adik, anak atau saudari korban, kita melihat bahwa penetapan tersangka oleh pihak berwajib terhadap pelaku sesungguhnya membuka mata dan menggoyang sistem berpikir kita yang linear tanpa kompromi. Sistem berpikir kita yang selalu menyimpulkan B karena premis atau dugaan sebelumnya adalah A.

Namun satu hal yang penting diketahui bahwa pandangan ini tidak bisa terlepas dari sejarah penindasan negara kolonial Indonesia terhadap rakyat Papua yang terjadi secara terus menerus. Sejak tahun 1960an hingga hari ini. Kekerasan yang terus dirawat melalui militerisme, perampasan tanah adat, penghancuran tatanan adat yang berujung pada marginalisasi. Kemudian melahirkan stigma beserta stereotip bagi orang Papua yang secara tampilan fisik berbeda (Melanesia) dari Indonesia (Melayu). Penulis percaya bahwa prasangka buruk, stereotip tidak lahir secara alamiah, ia diciptakan. Oleh propaganda negara melalui media, pendidikan, kebijakan dan institusi penjajah yang terus mereproduksi pengetahuan tentang bangsa yang dijajah. Hegemoni wacana negara kolonial juga berhasil mengaburkan narasi perlawanan rakyat Papua dan perjuangannya untuk menuntut pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM). Hingga masuk ke dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Seperti yang tergambar dalam kolom komentar FB oleh @Wilhelminasuwisno di atas.

Selain itu dampak yang paling berbahaya dari kolonialisme adalah inferioritas kompleks. Ia telah hidup dalam alam bawa sadar manusia yang dijajah seperti yang dijelaskan Frantz Fanon. Melalui bukunya “Black Skin White Mask”.
Manusia yang dijajah tidak percaya dengan dirinya sendiri, ia selalu membenarkan narasi penjajah tentang dirinya tanpa bertanya dengan kritis. Kemudian merasa berharga ketika meniru kebiasaan dan cara hidup pendatang. Salah satu bukti terlihat dari bagaimana OAP merespons kasus ini seperti yang tertuang dalam kolom komentar di atas. Tanpa mempertanyakan dengan kritis dan mengonfirmasi kebenaran lebih jauh, ia sudah merasa bersalah dan meminta maaf atas kejadian yang sebenarnya waktu itu belum ada hasil penyelidikan yang mendalam.
Bagi penulis perasaan ini muncul akibat dihancurkan hubungan orang Papua dengan sejarah dan pengetahuannya. Bangsa yang dijajah selalu merasa rendah diri, logikanya sulit diaktifkan apalagi nalar kritis. Ia hanya akan terbebas jika mengorganisir dirinya dalam perlawanan bersama komunitas. Belajar dan meruntuhkan narasi kolonial.
Siapa yang diuntungkan dari Stereotip yang terus Mengakar di Papua?
Tentu saja segelintir kelompok pemilik modal yang mengambil keuntungan dari perampasan tanah adat dan penghancuran sumber kehidupan manusia adat Papua. Kemudian pejabat pusat di Jakarta dan Papua, yang terus menikmati upeti/hadiah dari pemilik modal. Juga tentu saja pejabat tinggi aparat keamanan (TNI/Polri). Mereka diuntungkan dari stereotip ini sebab mendapatkan guyuran keuangan negara dengan alasan keamanan nasional. Juga dari korporasi besar seperti PT. Freeport, British Petroleum dan saat ini sedang berjalan, Proyek Strategis Nasional (PSN). Demi melindungi objek vital negara dari gangguan “KKB”.
Sistem kolonial dimanapun bertujuan untuk menghancurkan kohesi sosial. Dalam konteks Papua yaitu hubungan antar sesama masyarakat adat Papua. Juga orang Papua yang datang dari NTT, Maluku, Jawa-Makassar dan sekitarnya. Atau sering kita sebut “pendatang”. Bagi penulis mereka adalah orang Papua yang sudah seharusnya berjuang bersama masyarakat adat Papua dalam memperjuangkan kebebasan dan kebenaran sejarah. Sebab dari seluruh proses kekerasan ini rakyatlah objek yang dijajah itu, kita tidak akan diuntungkan dari semua kekerasan dan narasi yang dibangun oleh negara kolonial Indonesia.
Jika stereotip ini terus dipelihara maka kemanusiaan di tanah Papua akan mati total. Ia akan dihilangkan dengan prasangka kosong, stigma dan pemikiran rasis yang menutupi nurani dan logika. Semoga dari kasus adik terkasih ini, kita dapat belajar dengan menjawab beberapa pertanyaan reflektif berikut ini.
Kenapa saya selalu berpikir OAP itu jahat? Dari mana asal-usul pemikiran seperti ini? Kenapa OAP menjadi minoritas di tanahnya sendiri? Kenapa di hampir semua ruang produksi dan perputaran uang dikuasai pendatang? Lalu kenapa OAP membenci pendatang? Begitu juga sebaliknya. Masih banyak lagi pertanyaan yang bisa kita cari dan diskusikan bersama. Selamat membaca.
Referensi
Barker, C. (2004). Cultural Studies: Teori & Praktik (Nurhadi, Penerjemah). Kreasi Wacana.
Kassin, S., Fein, S., & Markus, H. R. (2008). Social Psychology (7th ed.). Houghton Mifflin Company.
Lippmann, W. (1922). Public Opinion. Harcourt, Brace and Company.
Zaduqisti, E. (2021). Psikologi Sosial: Pendekatan Teoretis dan Praktis. Umsida Press. umsida.ac.id
Website
- https://kumparan.com/kumparannews/ayah-di-merauke-mutilasi-putri-kandung-lalu-ngarang-cerita-anak-diculik-nangis-281vaW7TyWF/full
- https://brill.com/display/book/edcoll/9789004409200/BP000014.xml
Buku
- Black Skin White Mask and Wretch of the Earth. Oleh Frantz Fanon.
