Oleh: Yohanzen Patrick Yolmen
Ada banyak kepergian bapak dan mama bangsa Papua Barat yang menyayat hati dan memaksa air mata tercucur. Kepergian bapak Lukas Enembe adalah salah satu momentumnya. Setelah kita bersedih, apa kira-kira nasihat yang bisa kita dapat dari kepergian orang tua terkasih bangsa Papua Barat?
Penulis menangkap energi kesedihan, marah dan curiga atas kepergian beliau. Kecurigaan terhadap kepergian bapa Lukas terkait dengan faktor di luar daripada sakit yang dialaminya.
Kita harus saling mengingatkan sesungguhnya kematian seorang pemimpin selalu dilandasi motif politik. Misalnya;
- Sadam Husein (Iraq)
Sadam dihukum gantung oleh pengadilan karena dituduh membunuh 148 orang Islam Syiah. - Benazir Bhuto (Pakistan)
Benazir Bhutto 27 Desember 2007 dibunuh hanya karena dituduh menerima suap jutaan dollar dari Bank Swiss. - Julius Caesar (Romawi)
Julius Caesar dibunuh 60 anggota senat Romawi dengan cara ditusuk sebanyak 23 kali di depan umum karena keberpihakannya pada kaum rakyat kecil. - Abraham Lincoln (Amerika Serikat)
Ia dibunuh oleh Jhon Boot pada 15 April 1865, karena keputusannya melarang perbudakan terhadap orang kulit hitam di Amerika Serikat. - Muammar Khadafi ( Libya).
Ia adalah salah satu pemimpin negeri Arab yang dituduh, dan dibunuh oleh kekuatan asing karena suara kerasnya menentang negara barat khususnya Amerika Serikat.
Tokoh-tokoh di atas adalah mereka yang menjemput kematiannya dengan alasan politik yang kuat. Dari jejak sejarah yang ada, kita memahami bahwasanya begitu kuat pengaruh dinamika politik terhadap suatu peristiwa. Maka kita patut untuk mencurigai bahwa apapun yang terjadi dalam roda kehidupan kita, termasuk kematian seorang pemimpin bisa saja politis. Curiga adalah salah satu hak asasi yang melekat pada manusia. Kecurigaan adalah konsekuensi dari rahmat Tuhan yaitu akal sehat.
Akal sehat menuntun kita pada satu kesimpulan sementara, dengan cara mengaitkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, dan memprediksi potensi hidup di masa yang akan datang. Termasuk kecurigaan kita pada keterkaitan antara politik dan satu peristiwa. Sebab, dengan mencurigai adanya unsur-unsur politik adalah upaya deteksi dini untuk mencegah dampak buruk kekuasaan politik terjadi pada kehidupan kita.
Rata-rata kematian politis para pemimpin tergolong “beruntung”, sebab kematian mereka adalah kematian “mentah”. Kita tidak perlu menggali terlalu dalam untuk menemukan kondisi-kondisi mencurigakan dalam kematian mereka. Sayangnya, kematian rakyat jelatahlah yang sulit dicari kondisi-kondisi mencurigakannya.
Kondisi-kondisi ini bersembunyi jauh di bawah tutup kewajaran. Sehingga untuk menggali itu perlu upaya kritis yang tajam terhadap kewajaran tersebut. Dari kepergian pak Lukas, dan kecurigaan kita pada motif politik, kita belajar bahwa sekelas dan sekaliber pemimpin besar seperti bapa gubernur saja bisa diatur, apalagi kita sebagai masyarakat biasa (sipil).
Tetapi penulis ingat dalam satu kesempatan, bapa Lukas mengatakan :
Di dunia ini yang tidak happy adalah orang Papua, kita (orang Papua) tidak hidup aman di atas negeri kita sendiri.
Juga di lain kesempatan ketika beliau diwawancarai oleh Najwa Shihab, beliau mengatakan :
Bagi orang Papua tidak ada tawar menawarnya, orang Papua belum di Indonesia-kan secara baik.
Pernyataan-pernyataan beliau di atas adalah ungkapan-ungkapan jujur dan berani tentang kondisi orang Papua. Ia telah bertanggung jawab atas kebenaran yang ia yakini dengan mengorbankan reputasi politiknya di hadapan seluruh orang dan pemimpin Indonesia.
Kawan-kawan pembaca, petunjuk pertama bahwa hidup sebagai orang Papua sedang tidak baik-baik saja adalah pernyataan bapak Lukas Enembe, demikian : “kita tidak hidup aman diatas negeri kita sendiri”. Oleh sebab itu menjadi tanggung jawab semua golongan, terkhusus generasi muda Papua untuk turut membangun hidupnya sendiri, dan hidup secara kolektif yang penuh damai di atas tanah Papua.
Bapa Lukas ingin kita berbahagia di atas tanah air, negeri kita Papua. Kebahagian yang beliau inginkan terjadi pada kita adalah niscaya. Kebahagiaan yang bisa ditempuh dengan memperbaiki seluruh aspek kehidupan manusia Papua dari Sorong sampai Merauke. Perbaikan seluruh aspek penunjang kehidupan kita dimulai dari memperbaiki kepekaan kita terhadap politik.
Kita peka harus pada politik, sebab politik adalah sarana yang bisa dipakai mewujudkan kebahagiaan kita. Itu artinya, kebahagiaan kita bisa dibatalkan atau didukung oleh sarana-sarana politik. Inilah salah satu cara kita menghargai nama baik para pemimpin kita yang sudah pergi mendahului kita, menuju pada tujuan akhir, surga yang kekal.
