Penembakan di Wamena dan Kolonialisme Rasial

Ditulis Oleh: Victor Yeimo

Harus dilihat hubungan kausalitas dalam penembakan  3 Aparatur Sipil Negara (ASN) dan seorang sopir di Wamena. Bagi saya, sudah banyak literatur untuk menyimpulkan bahwa kolonialisme rasial terlebih dahulu membelah Papua ke dalam oposisi biner: Penjajah dan terjajah, ras dominan dan ras yang di dehumanisasi. Kekerasan, stigma, dan penghinaan rasial yang terus dialami orang Papua kemudian mengalami internalisasi kolonial:

Dikotomi ciptaan penjajah diserap ke dalam kesadaran bangsa terjajah hingga setiap non-Papua digeneralisasi sebagai representasi penjajah.

Ada homogenisasi kelompok luar (out-group homogenization) dan kesalahan atribusi kolektif. Yakni perbuatan suatu struktur kekuasaan dilekatkan kepada seluruh manusia yang dianggap berasal dari kelompok yang sama. Individu kehilangan identitas personalnya, lalu direduksi menjadi simbol rasial musuh. Ketika proses tersebut berkembang menjadi dehumanisasi. Identitas etnis diperlakukan sebagai bukti kesalahan dan warga sipil menjadi sasaran pengganti dari struktur kekuasaan yang sesungguhnya.

Karena itu, pembunuhan warga sipil non-Papua tidak lahir dari ruang hampa. Dalam teori kekerasan struktural Johan Galtung, kekerasan langsung hanyalah bagian yang tampak, sedangkan di bawahnya bekerja ketidakadilan politik, rasisme, marginalisasi, dan impunitas yang terus memproduksi konflik. 

                (Contoh Gambar Segitiga Kekerasan Galtung, Sumber: www.scribd.com)

Dom Helder Camara menyebut hubungan ini sebagai spiral kekerasan: ketidakadilan struktural melahirkan kekerasan perlawanan, kemudian kekerasan tersebut dijadikan alasan untuk memperluas represi negara.

Ini jelas merupakan akibat tragis dari kolonialisme rasial yang sejak pendudukan West Papua telah memproduksi kejahatan berbasis ras terhadap orang Papua. Negara tdk bisa hanya mengecam kekerasan yang tampak sambil menyembunyikan struktur kolonial yang melahirkannya. Jadi harus dipahami hubungan kausalitas ini sebagai syarat intelektual dan politik. Kalau mau memutus spiral kekerasan sampai ke akar strukturalnya.

Kolonialisme rasial itu akar masalahnya. Non-Papua harus berhenti memposisikan diri sebagai ras superior dan memutus keberpihakannya dari kekuasaan kolonial yang menaklukkan Papua melalui prasangka rasial. 

Stigma akan runtuh ketika non-Papua menempatkan dirinya sebagai sesama subjek tertindas dan sekutu pembebasan dalam melawan kolonialisme (Indonesia). Sebaliknya, orang Papua harus membebaskan dirinya dari dikotomi kolonial “penjajah putih versus terjajah hitam” yang menggeneralisasi setiap non-Papua sebagai musuh. 

Warna kulit tidak menentukan kawan atau lawan; keberpihakan terhadap penindasan atau pembebasanlah yang menentukannya. Jadi mari berhenti mewarisi prasangka penjajah dan bersatu menghancurkan struktur kolonial yg menciptakannya!

Editor: Papuansspeak

More From Author

Jebakan Tikus itu bernama NGOs: Dari Kalimantan, Sumatera dan Papua Barat

Tinggalkan Balasan