
Oleh: Mikhail Adam
Di sebuah pagi berdebu di Suliki, 1897, seorang bayi laki-laki lahir dengan mata yang, memberi isyarat mirip dua huruf tanya yang tak pernah berhenti menagih jawaban. Kelak ia bernama Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka, tetapi orang-orang hanya menyebutnya sebagai “Ibrahim yang terlalu banyak ingin tahu.”
Kabut Suliki mengantarkan dirinya pada falsafah hidup pertama dari Tanah Minang, “alam terkembang jadi guru.” Karenanya ia hidup dengan keyakinan bahwa dunia ini adalah papan tulis raksasa, dan manusia-lah kapur yang terus menuliskan kembali nasibnya kendati sering dihapus kekuasaan. Dari sana pikirannya terbang mengangkasa membawa mimpi tentang negerinya.
Keberpihakan politik Tan ditempa lewat pengalaman hidupnya, ia tumbuh di tengah masyarakat yang hidup dalam dua dunia: adat Minangkabau yang kuat dan bayang kolonialisme yang menekan. Ia menyaksikan bagaimana tanah subur dikuasai perkebunan Belanda, sementara rakyat bekerja tanpa pernah memiliki hasilnya. Kemiskinan bukan sekadar kondisi ekonomi, melainkan sistem yang dirancang.
Pengalaman itu membentuk kesadaran awalnya bahwa penjajahan tidak hanya hadir dalam bentuk serdadu bersenjata, tetapi juga dalam struktur kehidupan sehari-hari. Kelak ia menulis, “Kolonialisme bukan semata soal kekuatan senjata, melainkan soal penguasaan pikiran dan kehidupan ekonomi rakyat.”
Tan menyadari satu hal: penjajahan bukan sekadar soal senjata, tapi soal pikiran. Kuasa ilmu pengetahuan adalah yang tertinggi. Motivasi ini melecut seorang Tan Malaka untuk membebaskan bangsanya dengan ilmu pengetahuan.
Saat bersekolah di Kweekschool Bukittinggi, Tan berdiri sendirian sebagai satu-satunya murid pribumi. Kesendirian itu tidak menghalanginya untuk menjadi yang terpandai di sekolah. Kecerdasannya berkilau, tumbuh lebih cepat daripada usia kolonial yang membungkus zamannya.
Sang guru, Horensma, menangkap sesuatu yang jarang dimiliki murid-murid lain: ketajaman nalar yang tidak tunduk pada batas dan tata tertib kekuasaan. Dengan kekaguman yang tak sepenuhnya disembunyikan, ia mengirim Tan melintasi samudra dan hierarki, ke Rijkskweekschool, Haarlem, pada tahun 1913.
Tan menjadi seorang anak Minang yang berjalan di antara gedung-gedung Eropa seperti catatan kaki yang tiba-tiba terselip dalam halaman utama ensiklopedia kolonial. Di kelas, ia mendengar kata “kemajuan” dari mulut guru-guru Belanda, namun dirinya melihat kolonialisme dari jendela yang sama. Dari paradoks itulah lahir kesimpulan yang kelak menjadi prinsip hidupnya: Ilmu yang tidak membebaskan, hanyalah lampu yang menerangi penjara.
Di perpustakaan Haarlem, ia mengimajinasikan tentang Indonesia, di mana sekolah bukan tempat mengurung pikiran, melainkan tempat membangunkan hati dan pikiran yang merdeka.
“Sekolah masa depan Indonesia,” katanya dalam hati dengan bahasa yang paling sunyi, “bukan ruang untuk menundukkan pikiran, melainkan tempat pikiran belajar berdiri tegak dan merdeka.” Kalimat itu kelak berusia lebih panjang daripada pendirian negara yang hendak ia lahirkan.
Tahun 1919, setelah menyelesaikan studinya di Belanda, Tan kembali ke Tanah Air dengan sebuah tugas yang ia pilih sendiri: mendidik dan mencerdaskan anak-anak republik. “Mendidik anak Indonesia,” kata Tan seperti doa takzim yang memecah keheningan malam, “adalah pekerjaan terpenting dan tersuci.”
Tan membangun sekolah bagi kaum yang lemah dengan tekun dan ikhlas. Dari perjuangannya lahirlah sekolah-sekolah untuk anak-anak Buruh, “Sekolah Kuli” di Deli, Sumatera Utara. “Sekolah Rakyat” di Jawa. “Anak-anak,” katanya seperti berpesan pada sejarah, “membaca adalah tindakan politik pertama.”
Maret 1921, Kongres Sarekat Islam di Yogyakarta menjadi perjumpaan yang menentukan arah sejarah. Di sana, Tan Malaka bertemu dengan tokoh pergerakan lainnya seperti HOS Tjokroaminoto, Agus Salim, hingga Semaun. Di Serikat Islam gagasan pendidikan Tan semakin merekah dan mekar.
Lewat brosur “SI Semarang dan Onderwijs” ia menyusun cetak biru pendidikan kerakyatan yang sesuai dengan jiwa Indonesia:
Pertama terdidik dalam ilmu pengetahuan dasar;
kedua berkepribadian dan terampil dalam berorganisasi;
dan ketiga pendidikan yang berorientasi ke bawah atau dalam kata lain berpihak kepada kepentingan rakyat banyak.
Tan Malaka mengajarkan matematika, bahasa, logika, sejarah dalam sekolah yang ia asuh dengan cinta yang tak terbatas. Namun yang paling penting ia mengajarkan keberanian untuk mempertanyakan. Pendidikan bagi Tan adalah tempat untuk menyalakan kesadaran dan memerdekakan manusia. “Tujuan pendidikan,” kata Tan Malaka dengan bening dan puitis, “untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan.”
Di tangan Tan Malaka, kapur bukan hanya alat tulis, melainkan pisau kecil yang dapat menghancurkan tembok kolonial. Sejarah tidak ia perlakukan sebagai kitab suci, tetapi palu yang harus diayunkan untuk menciptakan kemungkinan dan membentuk masa depan. Ia mengajarkan para muridnya cara berpikir: bahwa 1 + 1 bukan hanya angka, tetapi metafora tentang solidaritas, tentang rakyat yang bersatu dapat meraih kemerdekaan. “Kolonialisme takut pada dua hal,” Tan menitahkan, “rakyat yang membaca dan rakyat yang berpikir.” Tan percaya rakyat tidak perlu diberi retorika palsu; cukup diberi buku, papan tulis, dan kesadaran bahwa ia tak dilahirkan untuk ditindas selamanya.
Semarang menjadi percontohan sekolah rakyat ala Tan Malaka dibangun. Dari sana, gagasan ini menjalar ke Bandung, dan menginspirasi kota-kota besar untuk mendirikan pendidikan kerakyatan serupa. Pada titik inilah filsafat pendidikan Tan Malaka melampaui teori di atas kertas dan terasa lebih tajam, lebih besar, dan lebih nyaring dari filsuf termahsyur, Paulo Freire.
Jika Freire merumuskan pedagogi kritis melalui riset selama 10 tahun lebih di Chile dan pengalaman hidupnya secara langsung di Brazil. Kemudian itu menjadi refleksi praksis dan uraian metodologi agar pendidikan menjadi alat pembebasan yang ia tuangkan dalam karyanya, ‘Pendidikan kaum tertindas.’ Tan Malaka telah lebih dulu mempraktikannya secara nyata di tengah pusaran kolonialisme.
Tan Malaka bergerak lebih jauh dan lebih konkret dari pada Freire. Ia mempraktekkan langsung dan membangun pengorganisiran untuk menempatkan pendidikan sebagai alat pembebasan melawan kolonialisme. Di Sekolah Rakyat, Tan menyelenggarakan training of trainer, kursus mencetak guru dari rahim rakyat sendiri. Murid-murid yang lebih dewasa dididik menjadi pengajar, lalu kembali mengajar di kelas-kelas yang lebih kecil. “Mereka,” tutur Tan tentang muridnya di sekolah rakyat, “nantinya adalah napas baru yang menambah kekuatan perjuangan rakyat Indonesia.”
Pengorganisiran sekolah rakyat ala Tan Malaka bukan sekadar sistem pendidikan, melainkan arsitektur sosial. Dari ruang pendidikan yang sederhana itu, Tan membangun struktur sosial yang progresif dan bersedia berjuang untuk republik. Tan Malaka berkeyakinan, sekolah bukan bangunan semata, melainkan mesin sosial yang mencetak tenaga-tenaga pejuang untuk menjemput cita-cita kemerdekaan.
Bagi Tan Malaka, pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Jika bagi kolonial pendidikan yang membebaskan adalah musuh paling berbahaya, bagi rakyat Indonesia adalah cahaya dan harapan paling terang. “Kemerdekaan rakyat Indonesia,” katanya jernih, nyaris teatrikal, “hanya bisa diperoleh dengan pendidikan kerakyatan.”
Tahun 1922 ia ditangkap. Tahun 1925 ia hidup dalam pengasingan. Tahun 1932 ia diburu pemerintahan kolonialis dan imperialis. Tahun 1942 ia kembali ke Tanah Air dan memulai hidup sembunyi-sembunyi. Selebihnya, ia adalah daftar panjang kota-kota tempat ia tak pernah benar-benar memiliki alamat: Manila, Shanghai, Hong Kong, Siam, Singapura, Kanton, Rangoon. Namun ia membawa semangat mengajar ke mana-mana. Membagikan ilmu dan spirit perjuangan pada mereka yang terjajah.
Ia mengajar para buruh pelabuhan Asia bahwa upah adalah hak yang harus direbut.
Ia mengajar para pelarian politik bahwa peta dunia dapat dibaca sebagai medan perlawanan.
Ia mengajar para revolusioner muda bahwa ide tidak perlu memiliki paspor.
Tan Malaka berjalan seperti bayang-bayang yang selalu dikejar matahari: tak pernah sepenuhnya tampak, tak pernah sepenuhnya lenyap. Ia hidup dalam sunyi, tetapi hadir di sanubari rakyat yang menanti masa depan.
Pada tahun 1925, Tan Malaka menulis Naar de Republiek Indonesia. Sebuah buku yang bermimpi tentang republik, dua puluh tahun sebelum republik itu benar-benar lahir. Di saat yang lain masih belum terbayang seperti apa bentuk negara Indonesia Merdeka, Tan Malaka telah menguraikan gagasan konseptual tentang Republik Indonesia. Legasi itu mengantarkannya pada panggilan kehormatan sebagai Bapak Republik
Tahun 1943, dalam persembunyian, ia menulis Madilog. Filsafat materialisme dialektika dan logika yang ia rumuskan dalam persembunyian, dengan pena yang lebih tipis dari pada harapannya pada nasibnya sendiri. “Madilog bukan buku,” katanya, “melainkan obor agar bangsa ini keluar dari gua takhayul dan feodalisme.”
Ia tidak ingin bangsa ini hanya merdeka secara politik, namun juga merdeka dalam berpikir.
Dan bagi Tan Malaka, kemerdekaan berpikir adalah hak asasi pertama manusia.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam pengasingan, tahun 1942 menandai kepulangannya ke Tanah Air. Ia kembali diam-diam, sembunyi-sembunyi, seperti langkah angin di antara pepohohan. Namun kabar tentang kehadiran Tan Malaka bereda cepat. Para pemuda menyambutnya seperti imam yang kembali dari gunung, membawa pesan yang dinantikan. Namun kehadirannya seperti hantu. Tan Malaka kembali ke tanah air dengan identitas palsu. Ia bergerak dengan langkah sunyi, banyak catatan menyebut ia hidup seperti hantu republik yang tak bisa ditangkap.
Ia menyiapkan gerakan bawah tanah untuk kemerdekaan 100%, bukan kemerdekaan setengah-setengah di bawah Jepang ataupun perundingan dengan Belanda. Dalam beberapa pertemuan rahasia, ia meyakinkan para pemuda bahwa proklamasi tidak boleh menunggu restu Jepang; ia harus menciptakan momentum dan menulis sejarah dengan pena sendiri.
Beberapa pemuda itu kemudian memaksa Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan. Jejak Tan Malaka ada di balik itu semua, meski tidak tertulis di buku pelajaran.
Kemerdekaan tercapai. Namun Republik yang baru lahir justru takut pada sosoknya. Ia seperti bayangan besar. Bayangan yang terlalu panjang. Terlalu pekat. Terlalu jauh menjangkau masa depan.
“Dia terlalu revolusioner,” kata mereka yang tak sehaluan dengan Tan Malaka.
“Dia api yang tidak bisa dipagari,” sahut yang lain yang tetap menaruh hormat pada Bapak Republik. Maka ia didiamkan. Disingkirkan. Disalahpahami. Namun setiap malam, Republik bergetar kecil seperti perasaaan paling bersalah kepada orang yang paling tulus mencintai.
Tan Malaka lahir untuk menjadi guru sekaligus filsuf pendidikan, tetapi dalam bentuk yang paling liar, paling politis, paling berbahaya bagi kekuasaan. Bagi Tan Malaka, guru adalah pekerjaan paling suci yang membangun kehidupan bangsa.
Dalam kepergiannya ia meninggalkan beragam buku, terutama Madilog, buku yang bukan hanya sekadar dibaca, melainkan disempurnakan untuk kemajuan ilmiah yang menuntun perjalanan sejarah republik.
Pada akhirnya, Tan Malaka layaknya seorang guru bangsa yang tak letih berpesan kepada anak-anak republik agar senantiasa bergiat belajar untuk mencapai martabat tertinggi sebagai manusia dan bangsa Indonesia yang merdeka.
