Orang Papua Harus Tahu: HIV Bukan Penyebab AIDS

Oleh: Lodrik Bisay

Gambar: https://www.klikdokter.com/info-sehat/hiv-aids/penularan-aids-di-papua-vs-provinsi-lain-di-indonesia

Arnaldo Guntur Fonataba, dokter muda dengan penuh empati menulis tentang kasus seorang kliennya. Perempuan berusia 18 tahun, hamil, dinyatakan positif HIV dan telah menjalani rutinitas dengan meminum obat ARV (Antiretroviral). Postingan dr. Guntur mendapat atensi publik yang sangat luar biasa. 1.100  kali dibagikan, 643 disukai, 256 komentar per tanggal 11 Mei 2025 sejak postingan itu dibuatnya pada tanggal 3 Mei. Dari 256 komentar, ada satu komentar yang menarik perhatian saya, yakni komentar dari akun facebook bernama Lasta Mannus

“Bagi orang Papua yang minim literasi kesehatan anggap ko sebagai pahlawan, bagi orang yang pintar ko salah satu aktor Genosida untuk orang Papua. Benarkah HIV/AIDS itu ada? Bisa tunjukan bukti korban? Atau pasien sengaja disembunyikan dengan ko pu tulisan fiksi yang didoktrin dari Luc Montagnier yang sudah dibantah bahwa HIV/AIDS tidak pernah ada atau sengaja menulis untuk mendapat dana hibah dari WHO dengan kam pu bisnis ARV untuk membodohi plus membunuh manusia Papua.” komentar Lasta Mannus itu  dikomentari lagi sama Vero Coman dan dr. Guntur sendiri.

Dari komentar Lasta Mannus yang terlalu subjektif karena langsung menuduh teman satu kompleks juga satu gereja dan teman bernyanyi dalam vocal Group (Betania Voice) sebagai aktor pembunuh orang Papua, yang kemudian ditanggapi sama pengacara Hak Asasi Manusia, Vero Coman dan juga dikomentari sama dr. Guntur sendiri. Saya  berpendapat masih banyak orang Papua yang pengetahuannya tentang HIV/AIDS masih terbatas, termasuk sebagian para Nakes (tenaga kesehatan). 

Para Nakes dengan keilmuan yang dipelajari hanya untuk menilai secara klinis penyakit pasien dan penanganannya (minum obat) menurut apa yang mereka pelajari. Tidak lebih dari itu. Maka itu, di sini dalam tulisan ini, saya ingin mengajak kita membahas bagaimana mekanisme kerja virus termasuk virus HIV. Juga bagaimana imun tubuh kita mengatasinya berdasarkan teori rantai kekebalan yang tidak dijadikan dasar dalam penanganan endemi virus HIV di Papua. Kitong memulainya dengan pertanyaan. Apakah obat ARV mampu menekan perkembangbiakan virus HIV? Dan apakah Rapit Tes Antibodi dapat mengetahui ada tidaknya virus HIV di dalam tubuh manusia? Sebelumnya kitongme-refresh duluh otak kita tentang apa itu HIV/AIDS. 

Human Immunodeficiency Virusatau HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Sedangkan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) ialah kondisi dimana sistem kekebalan tubuh manusia sudah tidak mampu melawan infeksi. Akibat melemahnya sistem kekebalan tubuh. Dengan kata lain, HIV adalah virus yang menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Sedangkan AIDS itu kondisi gangguan kesehatan pada manusia yang diakibatkan dari melemahnya kekebalan tubuh. 

Virus HIV sendiri ditemukan oleh Francoise Barre Sinoussi dan Luc Montagnier, pada tahun 1983 dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Sub Sahara – Afrika. Atas penemuan itu, pada tahun 2008 Francoise Sinoussi dan Luc Montagnier mendapatkan penghargaan Nobel Fisiologi. Karena mereka berdua dianggap telah berjasa dalam membuka jalan bagi penelitian dan pengembangan obat ARV. 

Dalam sebuah wawancara bersama Luc Montagnier yang ditayangkan di channel youtube Urban favor yang terbit pada 27 Agustus 2020 dan telah ditonton oleh 32 ribu orang di seluruh dunia. Montagnier sebagai salah satu penemu virus HIV mengatakan bahwa tubuh manusia dapat terkena virus HIV beberapa kali tanpa dapat terinfeksi secara kronis. Dan imun tubuh manusia mampu memusnahkan virus tersebut dalam waktu beberapa minggu jika manusia yang terkena virus HIV memiliki daya tahan tubuh yang baik. Luc Montagnier juga mengatakan bahwa ada banyak cara menekan virus HIV, yang pasti bukan saja pemberian vaksin. Namun dengan cara yang sederhana yaitu memberikan antioxidant, menjaga kebersihan dan menanggulangi infeksi lainnya. 

Cara yang ditawarkan Montagnier di atas tidaklah spektakuler karena tidak ada uangnya alias gratis. Tidak seperti penggunaan ARV yang didanai oleh berbagai lembaga dengan aliran uang yang tidak sedikit. Cara yang gratis itu menurut Montagnier sangat baik dalam menanggulangi epidemi virus HIV. Ia mengatakan juga bahwa cara tersebut mendapat kendala di Afrika karena nutrisi di sana sangat terbatas. Pertanyaannya, apakah kitong di Papua nutrisinya sangat terbatas seperti di Afrika sehingga perlu obat ARV? Tuhan pun akan marah bila kitong bilang Papua miskin nutrisi, sementara batang singkong dan daun hipere (Ubi jalar) bisa tumbuh liar dan menghasilkan buah tanpa pupuk. Ini soal pola hidup sehat dan menu makanan sederhana tapi bernutrisi, juga pengobatan medis yang baik dan tepat serta edukasi yang benar.

Dalam video youtube Urban Favor sebuah channel tentang ilmu kehidupan Luc Montagnier ditanya apakah kita perlu menekan Antiretroviral? Montagnier menjawab bahwa hal itu bisa melalui cara pemberian Antioxidant, perbaikan nutrisi, mengatasi infeksi lainnya seperti Malaria, TBC, Parasitosis, Cacingan, juga pendidikan dan kebersihan alat kelamin untuk laki-laki dan perempuan. 

Pola dan gaya hidup yang disarankan Montagnier, salah satu penemu virus HIV menurut saya jika dilihat berdasarkan teori sistem kekebalan. Maka apa yang dikatakan Montagnier sangat benar dan mendasar karena cara itu dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita. Dalam tubuh manusia, juga makhluk hidup lainnya ada yang namanya rantai kekebalan tubuh alamiah, dan menurut  ahli virus atau virologis berkebangsaan Indonesia, dr. Moh. Indro Cahyono. Bahwa kekebalan tubuh manusia dapat membunuh virus termasuk HIV yang masuk ke dalam tubuh manusia. 

Ada enam proses kerja sistem kekebalan alamiah pada makhluk hidup terutama pada  manusia. Prosesnya adalah pada saat ada virus yang masuk ke dalam aliran darah di tubuh. Maka virus tersebut dimakan sama Makrofag. Setelah dimakan sama Makrofag, virus yang terdiri dari banyak protein akan dipecah menjadi protein kecil lalu dikeluarkan dari Makrofag. Saat Makrofag mengeluarkan protein-protein itu, mereka berubah menjadi Antigen Presenting Cell (APC). Setiap (satu) protein yang dikeluarkan oleh Makrofag akan ditempelin Sel T-Helper dan kemudian ditempel lagi oleh Sel B. Sel B akan mengalami maturasi/pematangan yang kemudian mengeluarkan antibody. Itulah enam proses rantai kekebalan berdasarkan teori rantai kekebalan yang dipelajari para virolog dan imunolog di seluruh dunia sebagai materi dasar.  Dan saya yakin bahwa para nakes tidak mempelajari ini dengan baik apalagi relawan HIV/AIDS.

Dari hal di atas, saya punya satu pertanyaan untuk membantu kitong menjawab pertanyaan. Apakah Rapid Test Antibodi adalah alat untuk melihat virus HIV dan apakah obat ARV dapat menekan jumlah virus HIV dalam tubuh manusia? Pertanyaan lagi begini, pada saat antibodi keluar dari Sel B apakah virusnya telah dihancurkan? Jawabannya berdasarkan proses rantai kekebalan adalah iya, virusnya telah dihancurkan oleh Makrofag yang ada dalam tubuh. Karena jika virusnya tidak dihancurkan maka tidak ada Antigen Presenting Cell atau APC yang bisa ditempelin Sel B dan tidak ada antibodi. Dan antibodi yang keluar itulah penyebab ketika kitongtes antibodi (tes HIV) menunjukan hasil reaktif. Hasil reaktif itu berdasarkan teori rantai kekebalan menunjukan bahwa virusnya telah dihancurkan oleh kekebalan alami di dalam tubuh manusia yang diwakili oleh Makrofag. 

Ketika kitong tes HIV dengan menggunakan alat Rapid Test Antibodi yang fungsinya untuk melihat antibodi. Bukan virus dan hasilnya non reaktif disimpulkan bahwa tidak ada virus HIV. Sebaliknya jika hasilnya reaktif, disimpulkan bahwa ada virus HIV. Ini kesalahan fatal dalam mendiagnosa. Hasil reaktif itu sebenarnya menunjukan bahwa sistem kekebalan tubuh kita masih ada dan sedang melawan virus. Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan imun tubuh dengan cara yang disarankan oleh Luc Montagnier di atas. Bukan langsung minum obat ARV yang dikembangkan dan didanai oleh para kapitalis (pemilik modal) farmasi berkedok kemanusiaan.

Hasil tes HIV menggunakan rapid test antibodi menunjukan reaktif, langsung disarankan untuk meminum obat ARV tanpa melakukan tes PCR. Ia adalah cara mendiagnosa HIV dan penanganannya di Indonesia yang disarankan oleh tiga orang profesor dan sepuluh orang doktor. Dan cara itu salah total. Diagnosa dan nasehat medis di Indonesia lebih khusus di Papua seperti itu salah total. Jika dilihat dari teori rantai kekebalan yang dipelajari oleh para imunolog dan virolog di seluruh dunia. Juga tidak sesuai dengan saran WHO yang menyarankan untuk tiga kali melakukan rapid tes antibodi apabila hasilnya reaktif. Maka harus dilakukan lagi tes dengan menggunakan PCR tes setelah dan apabila hasilnya positif barulah dinyatakan HIV. Tes yang selama ini dilakukan di Papua dengan cara tes antibodi memiliki akurasi rendah dibandingkan menggunakan PCR tes. 

“Tes antibodi tidak 100 persen akurat. Karena itu, dokter perlu melakukan pemeriksaan lanjutan agar infeksi HIV/AIDS yang dialami oleh pasien bisa terdeteksi secara pasti”.

Proses tes HIV menurut WHO tidak terjadi di Papua. Sehingga wajib dipertanyakan soal kevalidan data penderita HIV. Jangan-jangan sengaja dibesar-besarkan untuk meningkatkan nilai uang dalam penanggulangannya dan bisa mempertebal dompet. Bisa iya, bisa juga tidak. Karena yang terjadi di Indonesia terlebih khusus di tanah Papua adalah sekali tes dan jika hasilnya reaktif menggunakan tes antibodi yang tingkat akurasinya rendah. Tanpa melakukan tes lagi dengan menggunakan PCR tes yang tingkat akurasinya tinggi sudah divonis terkena virus HIV. Dan langsung disarankan untuk minum obat ARV yang dikembangkan dan didanai oleh lembaga bisnis Big Farma. Padahal hasil reaktif itu menunjukan bahwa antibodi kita ada dan sedang bekerja untuk menghancurkan virus. Dan kekebalan tubuh kita mampu melawan virus HIV dan membunuhnya secara alami. 

Untuk itu, ketika baru sekali tes antibodi dan hasilnya reaktif jangan stress dan takut. Juga tidak perlu minum obat ARV. Karena caranya salah dan alat yang digunakan pun bukan untuk melihat adanya virus di tubuh kita atau tidak. Juga karena obat ARV hanya menghentikan perkembangbiakan/perbanyakan virus HIV di Sel T-Helper dengan menghancurkan Sel T-Helper. Pembaca perlu ketahui bahwa ketika Sel T-Helper rusak akibat obat ARV. Maka rantai kekebalan tubuh terputus sehingga kitong putubuh tidak bisa lagi memproduksi antibodi alami. 

Ketika tubuh tidak bisa lagi memproduksi antibodi alami maka, penyakit penurunan kekebalan atau AIDS itu terjadi. Jadi kesimpulan saya bahwa penyebab tunggal penyakit AIDS itu bukan HIV. Ia disebabkan oleh rusaknya Sel T-Helper dalam tubuh orang dengan HIV (ODHIV) akibat meminum atau memakan obat ARV. Begitulah faktanya dan akan saya jelaskan di tulisan berikutnya. 

Penulis adalah Alumni UNCEN, Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Referensi internet

Youtu.be, 2025, youtu.be/3PP6Uz2jQPo?feature=shared. Accessed 6 June 2025.

“YouTube.” YouTube, 2019, www.youtube.com/watch.

“Rumah Sakit Dengan Pelayanan Berkualitas – Siloam Hospitals.” Www.siloamhospitals.com, www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/tes-hiv.

More From Author

Papua adalah ATM Jakarta

Membebaskan Marxisme dari Kekeliruan: Kritik atas Penyederhanaan Ideologi dalam Gerakan Papua

Tinggalkan Balasan