Di Tanah yang Terkoyak, Kami Mencari Mama di Sungai yang Keruh

Diilustrasikan oleh: Julie Saumagne / JS.Moustique – Foto Mama Yosepha Alomang Perempuan Pejuang Melawan PT. Freeport Mempertahankan Tanah.
Oleh: Geofani Pogolamun
Bagi perempuan Amungme dan Kamoro di Mimika, alam bukan sekadar latar kehidupan. Ia adalah mama yang hidup, bernapas, dan memelihara. Di puncak “Gunung Nemangkawi”, perempuan Amungme melihat tubuh mama yang agung. Dari sanalah air turun menjadi sungai, kabut menjadi hujan, dan tanah menjadi sumber makanan. Di hutan pesisir dan rawa-rawa tempat sagu tumbuh, perempuan Kamoro melihat rahim budaya, ruang di mana bahasa diajarkan, doa dilantunkan, dan anak-anak belajar menjadi manusia yang tahu menghormati alam. Relasi ini bukan metafora puitis. Ia adalah cara pandang yang diwariskan turun-temurun (sebuah) cara memahami dunia melalui kedekatan dengan tanah, air, dan hutan.
Dalam kesunyian malam, saya membayangkan seorang perempuan Amungme berdiri menatap Nemangkawi di pagi hari. Ia tidak melihat batu dan salju semata. Ia melihat asal-usul. Ia melihat cerita nenek moyang yang dituturkan di beranda honai, tentang bagaimana gunung menjaga kampung seperti mama menjaga anaknya. Setiap aliran air yang turun dari lereng adalah susu yang menghidupi. Setiap kabut yang menyelimuti puncak adalah selimut kasih. Maka, menyebut Nemangkawi sebagai “mama” bukanlah kiasan, itu adalah pengakuan akan sumber hidup.
Di pesisir Mimika, saya membayangkan perempuan Kamoro menyusuri sungai dengan perahu kayu menuju hutan sagu. Ritme menokok sagu terdengar seperti detak jantung yang stabil tanda kehidupan yang terpelihara. Di sana, anak-anak tidak hanya belajar cara mengolah makanan, tetapi juga cara memanggil pohon dengan hormat, meminta izin pada hutan, dan berterima kasih pada sungai. Hutan menjadi sekolah tanpa dinding, sungai menjadi jalan tanpa aspal, dan rawa menjadi dapur tanpa kompor. Di ruang-ruang itulah kebudayaan bernapas.
Namun, perlahan lanskap itu berubah ketika industri tambang hadir melalui “PT Freeport Indonesia’’. Perubahan pertama mungkin tampak teknis, gungun di bela, jalan dibuat, material mengikuti aliran sungai menuju dataran rendah. Tetapi bagi perempuan Amungme dan Kamoro, perubahan itu terasa seperti retakan pada tubuh mama mereka sendiri. Sungai yang dulu jernih menjadi keruh. Rawa yang dulu menjadi dapur sagu tertutup sedimen. Hutan yang dulu menjawab nyanyian adat dengan gema pepohonan, kini menjawab dengan sunyi.
Perubahan lingkungan perlahan menghancurkan ritme kehidupan. Perempuan Kamoro yang biasa berjalan tidak jauh untuk mendapatkan sagu kini harus menempuh jarak lebih Panjang atau tak lagi menemukan tempat yang sama. Perempuan Amungme yang biasa mengajarkan anaknya tentang aliran air dari Nemangkawi kini kesulitan menunjukkan sungai yang dulu mereka kenal. Anak-anak tumbuh dengan jarak dari lanskap yang seharusnya menjadi guru pertama mereka. Ketika alam berubah, ruang belajar budaya ikut menghilang.
Di sinilah saya melihat luka yang paling sunyi, luka perempuan. Karena perempuanlah penjaga dapur, penjaga air, penjaga pangan keluarga, dan sumber kehidupan yang terus hadir. Ketika sungai berubah, merekalah yang pertama merasakannya. Sewaktu sagu sulit didapat, merekalah yang paling lama menahan lapar. Dan ruang kelola adat menyempit, merekalah yang kehilangan peran budaya yang diwariskan dari nenek moyang. Mereka tidak hanya kehilangan sumber makanan, mereka kehilangan cara menjadi perempuan Amungme dan Kamoro.
Identitas yang dahulu tertanam kuat di tanah kini terasa menggantung. Perempuan yang dulu berdiri tegak sebagai penjaga tradisi dipaksa beradaptasi dengan realitas yang tidak mereka pilih. Mereka menyaksikan anak-anak tumbuh tanpa mengenal hutan yang sama, tanpa merasakan sungai yang sama, tanpa mendengar cerita alam yang sama. Kekhawatiran terbesar mereka bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang hari esok, apakah generasi berikut masih bisa mengenal mama yang sama?
Sering kali dunia luar melihat tambang sebagai angka, produksi, devisa, pembangunan. Tetapi perempuan Amungme dan Kamoro melihatnya sebagai kehilangan yang tak dapat dihitung. Bagaimana menjelaskan bahwa gunung bisa dipanggil mama? Juga menjelaskan bahwa hutan bisa menjadi sekolah, dapur, dan tempat ibadah sekaligus? Dan menjelaskan bahwa ketika alam rusak, yang hancur bukan hanya lingkungan, tetapi juga ingatan kolektif sebuah bangsa?
Saya membayangkan percakapan sederhana di rumah panggung Kamoro pada senja hari. Seorang ibu bertanya pada anaknya, “Apakah kamu masih ingat tempat kita biasa mengambil sagu?” Anak itu mungkin menggeleng, karena tempat itu telah berubah. Dalam gelengan kepala itu, ada kesedihan yang sulit diucapkan. Ada kehilangan yang tidak terdengar keras, tetapi terasa dalam. Tangisan perempuan-perempuan ini jarang masuk laporan resmi, tidak tercatat dalam statistik, tetapi hidup dalam cerita yang mereka simpan di dada.

Cinta yang Tanpa Syarat diilustrasikan Prajna Dewantara Wirata
Saya melihat bahwa kerusakan alam bagi masyarakat adat bukan hanya soal ekologi. Ia adalah soal relasi, identitas, dan keberlanjutan makna hidup. Alam adalah teks pertama yang mereka baca sebelum mengenal huruf. Ketika teks itu terhapus, generasi berikut kehilangan buku pelajaran paling penting tentang siapa mereka.
Perempuan Amungme dan Kamoro mengajarkan kita cara melihat alam dengan hormat sebagai subjek yang hidup, bukan objek yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Mereka mengingatkan bahwa gunung, hutan, dan sungai memiliki nilai yang tak bisa diterjemahkan dalam rupiah atau tonase. Nilai itu adalah kehidupan itu sendiri, rasa memiliki, rasa terhubung, rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Pada akhirnya, saya melihat ini bukan hanya tentang Mimika. Ini adalah cermin bagi kita semua, bagaimana kita memandang alam, bagaimana kita menghargai kebudayaan, dan bagaimana kita mendengar suara perempuan yang paling terdampak tetapi paling jarang didengar. Di balik setiap perubahan lanskap, ada cerita manusia yang berubah bersamanya. Dan di Mimika, cerita itu adalah kisah perempuan yang merasa kehilangan mama mereka sendiri.
Kehilangan itu tidak selalu terlihat, tetapi terasa dalam seperti rindu yang tidak pernah benar-benar terobati. Di sungai yang keruh, mereka masih mencari bayangan mama. Di hutan yang menipis, mereka masih mencari gema nyanyian lama. Di tanah yang terkoyak, mereka masih menyimpan harapan kecil agar anak cucu suatu hari dapat mengenal kembali mama yang pernah begitu dekat.
Selama ingatan itu masih dirawat, selama cerita itu masih dituturkan, perempuan Amungme dan Kamoro akan terus berdiri sebagai penjaga makna. Mereka mungkin menangis tanpa suara, tetapi kesaksian mereka menggema jauh melampaui pegunungan dan pesisir mengajak kita semua untuk belajar kembali memanggil alam dengan satu kata yang paling lembut “mama”.
