
Oleh: Yauw Bhuyaka
Terdapat beberapa hal fundamental yang menjadi catatan reflektif mendalam, dan kritik diri saya atas teror sistemik yang menimpa sahabat, kawan kita di KontraS—Andrie Yunus—saya hampir sulit tidur, paska mengetahuinya saya terdiam dalam keheningan yang mencekik, sesak nafas akibat tekanan psikologis, otak saya terus memikirkan apa yang bisa dilakukan kedepannya dalam kerangka perlawanan? Apa yang kita butuhkan secara organik untuk bertahan? Tulisan singkat ini merupakan refleksi dan kritik diri saya pribadi yang mendesak, ide dasar yang bisa diperdebatkan dalam dialektika gerakan.
Melihat rentetan iklim politik Indonesia satu dekade terakhir yang semakin fasis, saya menuntut perlunya untuk kembali atau mulai mendirikan ekosistem pertahanan diri demokratis—bukan hanya persaudaraan rakyat dalam konteks ketika Api (perlawanan) sudah berkobar, melainkan juga terbangunnya persaudaraan antar rumah (sekretariat) organisasi sebagai sel-sel kehidupan baru; inisiasi aktivitas tradisional seperti ronda—menemani, mengawal setiap titik sentral lembaga, organisasi, kolektif yang sekiranya dalam periode atau iklim politik tertentu memiliki potensi tinggi menjadi target kekuasaan Negara yang represif. Kenapa ini menjadi sangat penting dalam konteks pertahanan diri?
Dalam situasi di level otoritarianisme seperti ini, kedepannya tidak cukup dan kita semakin direndahkan (baca; berisiko diperlakukan lebih dari ini) oleh kekuasaan (rezim terror) jika hanya terlihat kuat pada sebatas statmen sosial media yang meluas—tanpa terlihatnya respon cepat regrouping membangun body system bersama dalam mengatasi pengawasan musuh. Algoritma, pembajakan otak frontal—mentalitas yang terekonstruksi selama pandemi membuat kita masuk kejalur apa yang kemudian saya sebut mulai kecanduan untuk berfokus pada jangkauan orang mengetahui (engagment), sebagai bentuk kekerasan psikis seperti yang di analisis oleh Fanon. Percayalah, ucapan berbelasungkawa di kolom komentar hanya kekosongan dari hati kita yang semakin marah, sebuah fragmentasi jiwa. kita candu akan dopamin merasa sudah melawan dengan berkomentar marah-marah, kebahagiaan semu karena merasa bisa terus-menerus dengan aman menghina mereka (penguasa), untuk memantiknya ke level lebih lanjut struktur koordinasi kerja harus dilakukan terhubung dengan sel Kampanye (umumnya lembaga) dan Organizer sebagai pemantik massa—kolektif.
Rehabilitasi cara berjuang kita harus dimulai dengan pembongkaran atas cara kita (mentalitas) melihat perbedaan sektoral lembaga atau organisasi, keterhubungan harian seperti apa yang bisa kita bangun dengan tidak reaksioner membangun ratusan koalisi? ikatan yang selama ini tidak melahirkan persaudaraan diluar kolega kerja, dan tidak menuntut untuk menuju massa terorganisir harus di kritik, dan direfleksikan ulang secara mendalam. Apakah tetap relevan hanya menekankan keesatuan Ideologis atau spektrum penekanan identitas? Bukan atas nilai seperti—anti otoritarianisme, sembari menghargai keberagaman strategi-taktik untuk kepentingan pembebasan bersama. Membangun kedekatan satu sama lain harus dimulai dari reproduksi sosial sehari-hari.
Karena jika tidak, merasa ter-teror—keterasingan, kesendirian akan menyebar dan ini sudah terlihat sejak kenaikan Presiden Prabowo ke tampuk kekuasaan, terutama di para pekerja lembaga non-pemerintah (NGOs) keturunan TiongHoa yang bekerja sebagai individu—tidak bisa anonim—dan dalam hal ini mereka juga berisiko tinggi. Semakin jelas bukan? Rasa nyaman, eklusifitas menjadi pekerja NGOs merupakan ilusi berbahaya, begitu juga dengan mistifikasi dan glorifikasi yang menciptakan mentalitas heroik bahwa risiko hanya ada di organisasi akar rumput menjadi semakin tidak relevan. Kita semua rentan dibawah rezim teritorial!
Perjuangan kita, persaudaraan kita sebagai rakyat tidak lagi boleh bersifat transaksional dan sektoral. Rezim militer terus mengkonsolidasikan diri, memperluas wilayah teritorialnya, memperuncing kontradiksi kelas dengan membangun milisi rakyat baru diluar geng fasis; lewat para buruh di dapur makan bergizi gratis—yang juga mulai terlihat siap mati demi rezim.
Perjuangan kita harus mulai bersifat teritorial, memperluas wilayah kekuasaan gerakan demokratis—berbaur dengan masyarakat, aktivasi jaga kampung, jaga sekretariat, jaga individu, jaga kawan—satu sama lain, dengan saling mengenal diluar obrolan keluar (kekuasaan), tapi juga tentang risiko yang dikerjakan, kelemahan kita sebagai ekosistem gerakan, mekanisme pengamanan holistik apa yang bisa kita bangun. Saya rasa sudah berpuas diri kita dan memahami bahwa memang Negara mulai menuju ke otoritarianisme—analisis nasional cukup dikerjakan oleh beberapa orang saja dan kemudian dibagikan—dibahas di kelompok terkecil, berbagi peran kerja harus mulai dibangun bersama;
Komando rezim militer hanya bisa dipukul balik dengan komando teritorial kepemimpinan kolektif rakyat. Konsolidasi harus mulai kita lakukan tapi tentu syarat mendasarnya seperti yang sudah saya jelaskan di paragraf awal; eklusifitas menjadi pekerja NGOs, mistifikasi dan glorifikasi yang menciptakan mentalitas heroik bahwa risiko hanya ada di organisasi akar rumput harus dihancurkan!
Andrie adalah kita, jangan lihat dia hanya sebagai KontraS. Tapi lihat dia sebagai generasi Z yang berani menanggung risiko tinggi, menjadi sosok yang belakangan memikul keberanian mengkritik militerisme kedepannya, hal ini harus kita tanggung bersama, sebagai jaringan antar generasi yang tidak terima kehidupan sipil kembali direbut oleh otoritarianisme!
KontraS adalah kita! Lihatlah mereka bukan hanya sebagai lembaga, tapi juga sekumpulan tongkrongan yang harusnya menjadi kawan berkumpul kita, dan jika berbicara tongkrongan—setiap pertemuan, persaudaraan, bantuan, tidak harus menunggu program atau kepentingan politik yang mengarah ke kekuasaan.
Baku Jaga dan Baku Sayang kawan
Dalam konteks Papua tong mengenal istilah baku jaga dan baku sayang kawan, tong tentu hidup bersama dengan realitas ini. Di Papua relasi diluar hubungan transaksional sejatinya selalu ada dan sudah terbangun lama. Sejak masa tong punya orang tua, ketika ada yang susah semuanya bergerak mengorbankan apa yang ada padanya. Sebagai bukti kebersamaan.
Saat ini ia bertransformasi dalam bentuk yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Misalnya dalam pergaulan anak-anak di daerah perkotaan (Urban) kitong biasa dengar “anak terminal, anak pasar, ana-ana Waena (dalam konteks Jayapura)”. Narasi persaudaran serupa kitong temukan di tempat lainnya di Wamena kita biasa mendegar “anak-anak terminal pasar Sinakma”. Sebagai bukti orang Papua selalu hidup dengan kebudayaan Melanesia yang mengedepankan kebersamaan (kolektivisme) hal inilah yang selalu ingin dihancurkan oleh Negara. Sewaktu SMA saya pernah tergabung dalam ruang kumpul anak muda. Dan merasakan juga melihat bagaimana kawan-kawan saya berkorban dan berkomitmen untuk saling membantu ketika ada salah satu dari kami yang mengalami kesusahan.
Kritik diri saya juga kepada kawan-kawan NGO di Papua. Ketika kantor Jubi di bom, jurnalis Victor Mambor diteror, pembela HAM Yan Warinusi dan masih banyak lagi. Namun apa respon dan tindakan nyata dari semua pribadi dalam NGO atau secara kelembagaan yang ada di Papua? Isunya tenggelam hal ini masih dipandang sebagai resiko lembaga dan individu (biasanya dengan narasi “karena terlalu vokal) bukan sebagai ancaman bersama. Para pekerja HAM ini seperti menempatkan diri selayaknya bekerja di perusahaan yang berfokus pada keuntungan (provit). Bekerja dan berpikir (mentalitas) dari pagi hingga sore lalu pulang tanpa beban. Padahal tong ini sedang melawan kekerasan, penindasan dan penghancuran kehidupan bangsa Papua. Dari Sorong sampai Merauke.
Kita harus memegang nilai yang sama seperti sudah dijelaskan di atas, anti-otoriatarianisme. Segala bentuk kekuasaan yang selalu dipaksakan bukan berdasarkan kesepakatan kolektif. Disanalah upaya negara untuk menghancurkan kebudayaan orang Papua.
Dengan kejadian yang menimpa kawan Andrie kita sudah seharusnya bergerak bersama, bekerja lebih keras terutama dalam membangun persaudaraan, mengorganisir diri.
Saling Jaga!
Mulailah konsolidasi!
Bangun pertahanan diri teritorial!
Catatan—Penjelasan tambahan;
1. Pertahanan Diri Demokratis
Merujuk pada strategi perlindungan kolektif yang dibangun dari basis akar rumput, di mana masyarakat sipil mengorganisir mekanisme pengamanan holistik bukan melalui kekerasan ofensif, melainkan melalui solidaritas teritorial, saling jaga antar-kolektif, dan penguatan infrastruktur sosial yang otonom dari logika negara—akan memukul balik jika teritori diserang. Konsep ini tidak hanya berfokus pada model “demokrasi parlementer” yang mengandalkan instrumen hukum eksklusif, dan sebaliknya menekankan pentingnya integrasi sosial, toleransi aktif, serta pembentukan “tubuh sistem” gerakan yang mampu merespons ancaman otoritarianisme secara cepat, terkoordinasi, dan berbasis kepercayaan horizontal.
2. Kekerasan Psikis—Fanon
Dalam kerangka Frantz Fanon, kekerasan psikis adalah proses struktural di mana kekuasaan kolonial—otoriter tidak hanya menindas secara fisik, tetapi juga merekonstruksi mentalitas yang tertindas: menciptakan fragmentasi jiwa, internalisasi inferioritas, dan keterasingan dari diri sendiri serta komunitas. Dalam konteks digital-kontemporer, ini termanifestasi melalui algoritma yang membajak perhatian, dopaminisasi perlawanan semu (komentar marah tanpa aksi terorganisir), dan ilusi partisipasi yang justru melumpuhkan kapasitas kolektif untuk bertindak radikal. Fanon menegaskan: “Kolonialisme bukan mesin berpikir, ia adalah kekerasan dalam keadaan alamiahnya”—dan kekerasan itu bekerja paling efektif ketika korban percaya bahwa perlawanan mereka sudah cukup hanya dengan “merasa marah”.
3. Perjuangan Bersifat Teritorial
Bukan sekadar perebutan ruang geografis, melainkan strategi memperluas wilayah pengaruh gerakan demokratis ke dalam kehidupan sehari-hari: kampung, sekretariat, ruang kerja, hingga jaringan informal seperti “tongkrongan”. Teritorialitas di sini berarti membangun kehadiran organik gerakan di setiap lapisan sosial, sehingga kekuasaan represif tidak lagi mampu mengisolasi atau menargetkan elemen perlawanan secara selektif. Dengan pendekatan ini, konsolidasi tidak lagi bergantung pada koalisi reaksioner berbasis program, tetapi pada ikatan harian yang lahir dari saling mengenal, saling mengawal, dan saling memulihkan—sebuah “komando teritorial” yang bersifat kolektif, cair, dan sulit dipetakan oleh logika intelijen
