Ulasan Refleksi Bia dan Kapak Batu: Tanah, Tubuh, dan Luka Gastro Kolonialisme di Papua 

Novel Bia dan Kapak Batu karya Intan Andaru adalah cermin sosial yang merekam denyut nadi Papua melalui kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Cerita yang diangkat dari sudut pandang perempuan Papua, Paskalina , tidak hanya menuturkan kisah pribadi, tetapi juga menyingkap sistem kolonialisme baru yang bertema “pembangunan.” Dari prolog hingga bagian akhir, kita dibawa menyelami bagaimana tanah, tubuh, dan makanan, tiga unsur paling mendasar kehidupan, perlahan dijajah, bukan lagi dengan senjata, tetapi dengan kebijakan, bantuan, dan gaya hidup impor. 

Tanah dan Leluhur: Luka yang Tidak Pernah Kering 

Prolog membuka dengan mitos asal-usul leluhur, kisah seorang lelaki jelmaan dewa, tifa, dan patung-patung yang hidup menggambarkan sejarah kuatnya masyarakat Papua terhadap tanah dan alam. Namun seiring masuknya pendatang, kisah suci itu mulai retak. Melalui tokoh Tete , penjaga nilai-nilai lama, kita melihat ketakutan mendalam terhadap perubahan yang tidak lahir dari rahim tanah itu sendiri.

“Kalau malapetaka terjadi, tidak ada yang bisa lari,” kata Tete, seolah menubuatkan masa depan Papua yang terus diguncang atas nama pembangunan. 

Perempuan, Pengetahuan, Tubuh, dan Cinta yang Terluka 

Tokoh-tokoh perempuan seperti Aloysia, Mbak Asmani, dan Mawar mewakili lapisan sosial yang terjepit antara tradisi, modernitas dan pengetahuan . Cinta mereka bukan hanya soal hati, tapi juga menjadi metafora tubuh Papua yang indah namun terus dijajah secara halus. Tubuh perempuan menjadi ruang kolonial baru: diukur, diatur, dan ditentukan oleh sistem sosial maupun ekonomi. Masalah gastro kolonialisme mulai terasa: tubuh Papua, terutama perempuan, dikendalikan melalui konsumsi dan kemandirian dari bantuan makanan, hingga uang duduk yang membuat masyarakat terbiasa menunggu dan menerima tanpa sadar sedang dikendalikan. 

Gastro Kolonialisme: Penjajahan Lewat Meja Makan 

Novel ini menyinggung dengan sangat halus namun tajam soal gastro kolonialisme, bentuk penjajahan yang tidak lagi menundukkan tanah secara langsung, tetapi melalui pola makan dan ketergantungan pangan. Masyarakat yang dulu hidup dari sagu, ubi, dan hasil alam, kini menunggu beras, biskuit, susu bubuk, dan makanan kaleng dari pendatang atau pemerintah. Dalam narasi ini, makanan bukan sekadar nutrisi, melainkan alat kekuasaan . 

Seperti kata Tete: “Kita tidak boleh jadi seperti pusat distrik, kacau.” Kalimat ini menjadi simbol ketakutan akan perubahan yang menjauhkan orang Papua dari akar dan rasa kenyang yang sejati bukan kenyang di perut, tetapi kenyang di jiwa. 

Makanan lokal diabaikan, ladang-ladang ditinggalkan, dan lambatnya kemandirian pangan menjadi bentuk penjajahan baru. Tubuh yang dulu kuat karena hasil bumi sendiri kini menjadi tubuh yang lemah dan bergantung pada bantuan luar. Itulah gastro kolonialisme: penjajahan lewat selera dan lapar yang direkayasa. 

Generasi dan Pilihan: Pergi atau Bertahan

Lewat Kosmas dan Urbanus , novel ini mengangkat dilema generasi muda Papua. Kosmas yang ingin keluar mencari ilmu melambangkan harapan untuk melihat dunia, namun juga risiko kehilangan akar. Urbanus yang bertahan di kampung mencerminkan keteguhan terhadap adat, namun juga keterbatasan ruang untuk tumbuh. Di antara keduanya, Paskalina berdiri di tengah mencoba menyeimbangkan tradisi dan kemajuan, tanpa kehilangan dirinya sebagai perempuan Papua. 

Kehadiran Pendatang dan Sistem yang Tidak Netral 

Bagian tentang Ibu Guru dan Pusat Distrik menyoroti ambiguitas “pembangunan” di Papua. Para pendatang datang dengan niat baik mengajar, membantu, membangun tetapi di baliknya, sistem tetap tidak berpihak. Fasilitas yang katanya “untuk masyarakat Papua” ternyata lebih banyak dikuasai oleh orang luar. Sementara masyarakat lokal tetap menjadi penonton di tanah sendiri. 

Hal ini tampak jelas di bagian Pusat Distrik dan Rumah Sakit , di mana Paskalina menyadari bahwa semua layanan yang dibangun “atas nama kami” ternyata tetap meninggalkan mereka dalam posisi marginal. Ini bukan lagi kolonialisme fisik, tetapi kolonialisme birokratis dan ekonomi, yang dikemas dalam bentuk pembangunan modern. 

Tubuh Sakit dan Ironi Sistem 

Bagian Aloysia juga menyoroti bagaimana ironi dari maraknya penyakit menular, mulai dari perilaku seksual berisiko dikarenakan rendahnya tingkat pendidikan, dan pengetahuan mengenai cara penularan HIV terhadap kelompok rentan, baik pria maupun wanita.Penderitaan aloysia menjadi simbol kesetiaan yang menghancurkan sebuah kepercayaannya. 

Bagian Tete menampilkan ironi paling tajam: seorang tetua yang sakit TBC tetap merokok, dan yang menjual rokok justru petugas kesehatan sendiri. Ini bukan sekedar kisah individu, tapi alegori atas sistem yang salah arah sistem yang seharusnya menyembuhkan, tapi justru memperpanjang ketergantungan dan penderitaan.Serta ironi bagaimana kurangnya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan dasar di Papua. 

Tete menjadi simbol tubuh Papua: sakit, tapi dibiarkan begitu saja karena ketidakpedulian yang sistemik, dan gambaran besar walaupun ada otsus tidak diberdayakan dan merugikan masyarakat,tenaga pendidik dan tenaga kesehatan tidak terjamin. 

Pertanyaannya, apakah pembangunan yang menjanjikan kesehatan benar-benar peduli pada tubuh Papua, atau hanya memanfaatkan tubuh itu sebagai angka statistik keberhasilan proyek? 

Apakah otsus benar-benar bisa menjamin untuk semua tenaga yang membantu membangun Papua? 

Wabah dan Kematian: Simbol Luka Kolektif 

Bagian Anak-anak Kampung Kami dan Sarampa menggambarkan penderitaan masyarakat yang berulang wabah penyakit, kematian anak-anak, dan pelayanan kesehatan yang tidak merata. Penyakit di sini bukan hanya biologi, tetapi penyakit struktural : kemiskinan, ketimpangan, dan ketergantungan. Ketika Paskalina menyaksikan adiknya meninggal karena Sarampa, pembaca melihat wajah nyata kegagalan sistem yang dibangun jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Tanah dan Uang: Pertarungan Terakhir 

Menjelang akhir, bagian Pembangunan Dermaga , Darah di Perut Urbanus , dan Pelindung Tanah Kami memuncak pada konflik antara mereka yang membela tanah dan mereka yang menjualnya. Uang, proyek, dan janji modernitas menjadi alat untuk memecah belah masyarakat. Pertikaian antara Urbanus dan Faiku menjadi lambang dari benturan ideologi: antara mereka yang setia pada tanah dan mereka yang tunduk pada uang. 

Makna Simbolik: Bia dan Kapak Batu 

Simbol bia (kulit kerang) dan kapak batu menjadi metafora mendalam: bia melambangkan nilai tukar dan hubungan sosial dalam budaya lokal, sedangkan kapak batu melambangkan kerja, kelangsungan hidup, dan warisan leluhur. Ketika keduanya dihadapkan pada modernisasi, keduanya kehilangan makna semula menjadi sekadar benda mati dalam pembangunan yang tidak berjiwa. 

Pertanyaan Reflektif untuk Kita Orang Papua 

1. Apakah kita masih makan dari tanah kita sendiri, atau dari proyek bantuan yang mengubah selera kita tanpa kita sadari? 

2. Apakah tubuh Papua masih menjadi milik orang Papua, atau sudah menjadi milik sistem kesehatan dan ekonomi yang datang dari luar? 

3. Apakah “pembangunan” yang datang benar-benar membangun manusia Papua, atau hanya menanam beton di atas luka lama? 

4. Ketika bia dan kapak batu tinggal simbol, masihkah jiwa Papua hidup di dalamnya? 

Kesimpulan 

Novel Bia dan Kapak Batu adalah potret mendalam tentang Papua yang dijajah tanpa perang . Ia menampilkan bahwa kolonialisme kini hadir di meja makan, di puskesmas, di sekolah, bahkan di dalam cara kita berpikir tentang “kemajuan.” Gastro Kolonialisme menjadi akar penderitaan yang halus tapi nyata menjajah dari dalam tubuh, mengganti rasa lapar dengan ketergantungan. 

Melalui tokoh Paskalina dan masyarakat sekitarnya, Intan Andaru menulis bukan hanya cerita, tapi seruan lembut untuk kembali ke tanah, kembali ke akar, dan kembali ke tubuh sendiri. Karena disanalah letaknya kemerdekaan sejati bukan dalam pembangunan besar, tetapi kemampuan orang Papua untuk merasa kenyang dari hasil tangannya sendiri dan hidup dengan nilai-nilai leluhurnya.

More From Author

Epistemic Seduction: Pendekatan Peneliti Melahirkan Bayi Mati dalam Kandungan

Apa itu Pemimpin dan Kepemimpinan dalam paradigma Apoist?

Tinggalkan Balasan