REFLEKSI FILM ADVOCATE

Kemanusiaan dan Pembebasan Nasional

Sore itu ketika hari sudah mulai gelap beberapa kawan-kawan berkumpul di sebuah rumah yang halamannya tidak terlalu luas namun nyaman. Tempat itu berisikan berbagai jenis buku misalnya sejarah Papua, politik, hukum, HAM dan masih banyak lagi jenis bacaan.

Tempat ini dikenal dengan Paraparabuku. Sebuah komunitas baca dan diskusi yang berlokasi di kota Jayapura, Papua. Pada 27 Juli 2025 diadakan kegiatan Nonton Rame-Rame. Sebuah film berjudul Advocate. Ia mengisahkan perjuangan seorang perempuan pengacara berdarah Yahudi bernama Lea Tsmel. Lea berjuang dengan penuh konsisten untuk membela keadilan bagi orang Palestina di tengah peradilan Israel yang sangat diskriminatif, rasis dan penuh kebohongan.

Lea berjuang bukan saja melawan ketidakadilan dalam sistem hukum Israel namun juga melawan kolonialisme pendudukan yang sedang terjadi, merebut dan menghancurkan ruang hidup orang Palestina.

Ketika film diputar suasana begitu hening semua orang menatap layar putih itu dengan penuh tanda tanya juga rasa haru. Meskipun terdengar suara berisik dari motor yang melintas, pandangan mereka tidak sedikitpun berpindah dari alur film. Ketika film berdurasi satu jam lima puluh menit itu berakhir. Sang moderator berbaju hitam dan berambut panjang dengan senyumannya membuka ruang untuk berefleksi bersama.

Refleksi pertama datang dari seorang peserta berketurunan Jawa namun lahir dan besar di Papua, ia merefleksikan;

Menjalin koalisi lintas gerakan karena kita tidak bisa sendiri. Kita disatukan kemanusiaan. Tidak semua gula terasa manis, tidak semua peradilan memberikan keadilan. Saya rasa kita punya kesadaran yang sama tentang sistem yang salah ini. Perbuatan sekecil apapun akan memberi dampak. Mungkin kita belum bisa merubah secara besar tapi kita harus tetap semangat untuk membicarakan masa lalu, bukan untuk mengorek yang kelam tapi mencegah berulang lagi _ (Refleksi Peserta)

Setelah itu moderator mengajak kami juga untuk merefleksikannya dengan melihat kondisi di tanah Papua. Muncul beberapa refleksi yang berusaha melihat kesamaan sejarah perjuangan di Palestina dan Papua hari ini. Juga beban ganda perjuangan yang harus dipikul Lea;

Kita juga harus ingat bahwa perang ini tidak mulai sejak Oktober 7 2023 tapi Nakba 1948. Di Papua kita sangat kenal New York Agreement, dimana disana tidak ada orang Papua disitu. Sama seperti yg terjadi di kasus Palestina dengan Belford dan Oslo Court. SR IP PBB, akar permasalahan genosida adalah rasisme dan kita rasakan di Papua. Kita menyaksikan sekarang bagaimana hukum internasional hancur, PBB tidak bisa buat apa-apa. BBC juga kasih keluar bagaimana Prabowo dan Trump bekerjasama, salah satunya Indonesia beli senjata dari Amerika. Kita adalah manusia, yang mau hidup karena itu kita bersolidaritas dan berjuang, dan membuat kita tetap menjadi manusia – (Refleksi Peserta)

Refleksi selanjutnya menjelaskan tentang Lea sebagai sosok yang berpihak, tidak melihat persoalan hanya hitam dan putih, ia melihat ada akar pendudukan yang sama terjadi di Palestina dan Papua;

Saya nonton kedua kali. film ini kayak, sangat dekat dengan hari-hari kita di Papua. Kekerasan antara warga sipil, kekerasan oleh aparat, militer, pengadilan nya. sangat dekat dengan kita di Papua. Yang saya suka, bagaimana Lea tidak melepas tindakan sehari-hari orang Palestina tidak lepas dari pendudukan yang sudah lama terjadi. Dia sebagai orang Israel dan terdidik, dia melihat itu.

Ini membuat saya melihat tindakan sehari-hari ini menjadi tindak perlawanan di Papua hari ini begitu. Di awal dia bilang “orang Israel tidak berhak mengajarkan orang Palestina berjuang”. Dia intelektual muda Israel yang tahu betul bagaimana sejarah pendudukan dan dia dulunya termakan propaganda negara. Dia melihat pengalaman keluarganya yg menjadi korban Holokaus, dia melihat itu terjadi pada orang Palestina- (Refleksi Peserta)

Meskipun jarak antara Palestina dan Papua sangat jauh namun bentuk penindasan dan ketidakadilan selalu sama dan dekat dengan realitas di Papua;

Sedikit gambaran dari film tadi, film ini dekat dengan kita. Ini mirip dengan kita di Papua. Kalo kita dampingin kasus, mereka biasa bilang kita pengacara separatis. banyak stigma-stigma yang melekat ketika kita memenuhi tanggung jawab kita. Stigma juga sering ditempatkan ke pengacara yang mendampingi teman2 minoritas gender (LGBTQ). Ini kita hadapi ketika mendampingi isu-isu minoritas (Refleksi Peserta)

Dari hasil nonton rame-rame ini tong melihat bahwa penjajahan selalu berjalan bersamaan dengan rasisme, diskriminasi dan bentuk ketidakadilan lainnya. Ia mungkin berbeda tempat dan waktu namun sifatnya selalu sama yaitu membunuh kemanusiaan.

Pada sesi akhir refleksi moderator menutupnya dengan rangkaian kata yang penuh makna;

Dari film ini, kita belajar bahwa menjadi ‘advocate’ bukan hanya tentang jadi pengacara saja. Tapi tentang memilih berpihak—meskipun tra nyaman, meskipun berisiko. Di Papua, kita tidak kekurangan orang yang berani. Tapi dong sering berdiri sendirian. Mungkin setelah menonton ini, sa dan ko bisa mulai bertanya: siapa yang ingin kita bela? Dan berani sejauh mana kita mau berdiri bersama yang dibungkam?

Naik perahu ke Teluk Cenderawasih,

Ombak kecil menyapa nelayan.

Jangan diam saat hukum menindas,

Bersuara itu bagian dari perjuangan.

More From Author

Peran Teologi dalam Dalam Pembebasan Palestina

Tantangan IMAPA Pasca DOB dan Pentingnya Persatuan

Tinggalkan Balasan